Selasa, 13 Februari 2018

Memo Thio Thiam Tjong

LAPORAN KUNJUNGAN DI JAMBI 18-20 JANUARI 1949


Kamis, 18 Januari 1949. jam 1 siang kami berangkat menggunakan pesawat terbang ke Palembang bersama ahli bahasa Kwamn Chao Min yang bekerja di kantor saya. Alasannya membawanya karena sebelum perang dia tinggal di Jambi dan mengenal betul daerah tersebut. 

Beberapa hari sebelumnya saya bertemu Tuan Van der Velde. Ia bercerita bahwa setiap hari ada 2 hingga 3 pesawat terbang ke Jambi yang mengangkut barang-barang milik B.P.M (Bataafse Petroleum Maatschappij). Di bandar udara Palembang kami mendengar bahwa sekarang pesawat ke Jambi hanya ada apabila diperlukan, tidak setiap hari. Untung hari itu ada pesawat militer yang ke Jambi, dan kami dapat ikut serta. 


Dekat Jambi kami melihat nyala api dan gumpalan asap pekat yang berasal dari sumur-sumur minyak yang terbakar. Kemudian kami mendengar dari Tuan Van der Velde bahwa kebakaran tersebut tidak gawat dan segera dapat dipadamkan. Jam 5 sore kami mendarat di bandar udara Jambi yang sama sekali tidak rusak. Melalui telegram kami meminta transport ke kota. Tuan Van der Velde dan Kontrolir Naardig datang menyambut kami di salah satu dari dua mobil penumpang baru yang belum lama berselang sampai di Jambi. Kendaraan yang lain disediakan untuk Residen Indonesia. Jalan ke kota jelek, tetapi aman sekali. 

Untuk memudahkan hubungan dengan masyarakat Cina, kami ditempatkan dalam sebuah asrama untuk staf Firma Singapore Hok Tong. setelah diberitahukan, ketua dan anggota pengurus Chung Hua segera memberi salam pada kami, tetapi sudah jam 18.30 dan jam 19.30 jam malam mulai diberlakukan. Kami berjanji untuk esok hari, jam 8 pagi mengadakan pertemuan dengan pengurus Chung Hua Tsung Hui dan orang-orang Cina terkemuka di Jambi. Pertemuan diadakan di gedung sekolah Cina dan dihadiri kurang lebih 50 orang. Mereka menyampaikan keinginan dan keperluan pada saya. 


Besarnya Musibah 

Musibah yang menimpa Kota Jambi telah begitu luas terjadi. Percobaan pendaratan tentara Belanda pada tanggal 29 Desember 1948 pagi jam 9.00 mengalami kegagalan karena awan tebal. Pesawat-pesawat harus terbang keliling di atas kota menyebarkan pamflet, dan kembali lagi kepangkalan. Percobaan pada hari yang sama diulangi pada jam 14.30, dan berhasil. Ketika pendaratan pasukan para dan pesawat transport selesai, sudah terlalu sore untuk merebut kota. Pasukan tinggal di luar kota. malam itu jam 19.00 perampokan dan pembakaran dimulai.


Sehari sesudah perebutan Jogja oleh Belanda, Pejabat Republik di Jambi memerintahkan para pemegang karet untuk mengumpulkan persediaan mereka dalam gudang-gudang bea cukai dipelabuhan. Pada malam tanggal 29 Desember 1949, gudang yang berisi 2.500 ton karet dibakar, percetakan Cina yang yang digunakan oleh orang-orang Republik untuk mencetak uang diledakan. Tidak lama kemudian pusat kampung Cina menjadi mangsa lidah api. Dua pertiga dari jumlah rumah-rumah Cina dan toko Cina terbakar sampai ludes. Kerugian material yang diderita orang-orang Cina kurang lebih 15 Juta Dolla Singapore (straits dollars).

Syukur korban Manusia dapat disebut sedikit, hanya 7 orang terbunuh karena peluru nyasar. Dengan adanya pembakaran-pembakaran dan penjarahan, juga TNI membawa sebagian besar persediaan beras yang ada sewaktu mundur.

Penerimaan Bantuan

Chung Hua Tsung Hui Palembang segera mengirimkan 15 Ton beras dan 681 pon susu bubuk KLIM, serta uang sebanyak f.30.000,-. Pada hari kedatangan saya di Jambi datang kapal dari Singapore dengan membawa bahan bantuan yang terdiri dari 1.273 peti berisi beras dan ikan asin, bahan makanan lainnya), dan sejumlah pakaian. Federasi Chung Hua Tsung Hui seluruh Indonesia (Indonesia Chung Hua Tsung Hui Lien Ho Pan Sze Tau) mengirim uang sebesar f.55.000,- dan 28.800 yard tekstil. 

Konsulat Cina di Pelembang memberi bantuan atas nama Pemerintah Cina sebesar f.20.000,-. Memang agak memalukan Pemerintah, kecuali pembagian pakaian tua dari badan sosial, tidak berbuat apa-apa untuk meringankan penderitaan para korban aksi militer ini.

Urusan ekonomi menyediakan 21 ton beras dengan harga 75 sen per kilo. Saya membicarakan hal ini dengan tuan Van Der Velde yang sepaham dengan saya, bahwa bantuan dengan korban termasuk tugas atasan, namun dia tidak menerima instruksi. Dia mau bertanggung jawab mengembalikan uang yang dibayar Chung Hua Tsung Hui untuk 21 ton beras, dan membebaskan biaya masuk bahan bantuan yang baru datang dari Singapura.

Ternyata, sejak aksi politik pertama tahun 1947, Chung Hua Tsung Hui melakukan pekerjaan yang sangat baik, yaitu dengan memberikan pertolongan pertama kepada korban. Mereka dapat lebih cepat dari para pegawai instansi dengan aksi bantuan dan memberikan pertolongan yang diperlukan segera. Otoritas setempat, khususnya urusan sosial seharusnya bekerja sama dengan organisasi ini atau yang sejenis, dan inisiatif swasta harus digalakan.

Keadaan Ekonomi

Walau kerugian materi yang diderita orang-orang Cina di Jambi sangat besar, namun mereka tidak putus asa. Mereka tampak sibuk kembali diatas reruntuhan rumah-rumah dan toko-toko untuk membangun kembali los-los dan sebagainya dari berbagai bahan. Pasar-pasar buka kembali dan penuh dengan penjual, sebagian besar petani sayuran Cina.

Uang NICA yang beredar masih sangat sedikit. Suatu suntikan uang (dana) yang cukup besar diperlukan untuk menjalankan kehidupan ekonomi kembali. Agar selekas mungkin kehidupan ekonomi kembali, perdagangan perlu hidup dengan cepat di daerah yang dulu begitu kaya. Mengenai ekspor karet, sejak dahulu sebagian besar berada dalam tangan pedagang Cina. Mereka membeli hasil di pedalaman dari penduduk Indonesia dan diangkut ke Jambi untuk dilakukan pemilahan atau remilling.

Juga sangat diharapkan, jika memungkinkan para pedagang karet yang sekarang ada dan para pengusaha pabrik penggilingan karet kembali melakukan usaha mereka selekas mungkin. Dengan demikian penduduk (para produsen) dapat menjual hasil mereka. Demi kepentingan penduduk, para pedagang Cina diperkenankan menentukan yang diperlukan dan dibuka kemungkinan ekspor karet ke Palembang untuk menghasilkan devisa.

Tersedianya alat pembayaran setempat yang sah hanya dapat dilakukan sementara oleh penguasa. Bagi para pedagang Jambi yang mempunyai uang di bank-bank di tempat lain (misalnya Palembang) diadakan peraturan, yang mana kas negara dapat menerima uang dari Palembang. Berarti ada perbaikan penting.

Pembangunan kembali yang cepat dari bagian terbesar Pecinan yang rusak memerlukan kredit pembangunan dengan kondisi pembayaran yang mudah. Algemene Volkscrediet Bank (Bank umum perkreditan rakyat) yang memberikan sejenis kredit untuk pembangunan pasar-pasar yang terbakar (Pecinan) di pelbagai tempat di Kalimantan Barat (Mandar, Montrado, dsb) juga perlu digerakan di sini. (Terjemahan).










1 komentar:

  1. numpang promo ya gan
    kami dari agen judi terpercaya, 100% tanpa robot, dengan bonus rollingan 0.3% dan refferal 10% segera di coba keberuntungan agan bersama dengan kami
    ditunggu ya di dewapk^^^ ;) ;) :*

    BalasHapus