Rabu, 15 April 2015

Minirama: Perundingan Muarotembesi

Di bekas kediaman Wedana Muarotembesi pada 27 Oktober 1949 diadakan perundingan antara Belanda dengan Pemerintah Republik Indonesia yang disaksikan wakil dari UNCI (United National Commision for Indonesia) yang dikenal dengan Komisi Tiga Negara. Sebagaimana diketahui, pada 23 Agustus 1949 diadakan Konfrensi Meja Bundar antara Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Belanda di Den Haag. Perundingan ini dimediasi UNCI yang dibentuk PBB. Dalam perundingan tersebut disepakati bahwa negara Republik Indonesia menjadi Negara Republik Indonesia Serikat (RIS) dan disetujui penandatangan naskah peralihan tugas bidang pemerintahan dan keamanan. Waktu pelaksanaan isi perundingan tersebut ditetapkan 27 Desember 1949.
Rapat berlangsung tertutup dan hasilnya disepakati bahwa menjelang 27 Desember 1949 Pemerintahan TBA (Territorium Bestuur Adviser) dan komandan tentara Belanda menyiapkan segala sesuatu mengenai pemindahan kekuasaan kepada Pemerintah Republik Indonesia Jambi. Dalam perundingan tersebut tercapailah persetujuan yang dicantumkan dalam "Naskah Persetujuan Alih Tugas" bidang Pemerintahan dan Keamanan. Naskah tersebut ditandatangani Letnan Kolonel A. G. W. Navis dari pihak Pemerintah Belanda dan Kolonel Abunjani dari pihak Pemerintah Indonesia. Dengan demikian selesailah perundingan penyerahan kedaulatan Republik Indonesia dalam daerah Keresidenan Jambi yang pelaksanaannya dilakukan di kewedanan-kewedanan. 
Adapun peserta perundingan di Muarotembesi terdiri dari a). anggota TBA adalah Residen TBA Vander Vliet, Asisten Residen TBA Van Schendel, Letnan Kolonel A. G. W. Navis Komandan Resimen Belanda; b) pihak Pemerintah Republik Indonesia Jambi adalah Residen Republik Indonesia A. Residen Republik Indonesia Jambi Bachsan Siagian, Komandan STD/Ketua Local Joint Commite Kolonel Abunjani, Dewan Pertahanan Daerah Jambi A. Sarnubi, Kepala Polisi Dewan Pertahanan Daerah A. Bastari, Anggota Local Joint Commite Mayor Brori Mansyur; c) pihak saksi adalah Gubernur Militer Sumatra Selatan Dr. A. K. Gani, Gubernur Republik Indonesia Sumatra Selatan Dr. Mohd. Isa, dan Panglima Sub Koss dan anggota Local Joint Commitee Sumatra Selatan Kolonel Simbolon, dan d) pihak UNCI Paul Van Zeelan dari Belgia, Dr. Frank Graham dari Amerika Serikat, dan Richard Kirby dari Australia.

Minirama: Penaikan Sang Saka Merah Putih

Upacara memperingati hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1949 yang bertujuan memelihara dan membangkitkan semangat juang masyarakat diikuti oleh para pelajar, anggota IPPI, Tentara Pelajar, dan sebagian masyarakat setempat. Upacara peringatan tersebut dilaksanakan di halaman rumah Raden Hasan Basri di Kampung Sungai Asam. Dengan penuh semangat dan keberanian para pelajar yang tergabung dalam IPPI/TP melaksanakan upacara hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia, walaupun dibayangi oleh ancaman ditangkap penguasa militer Belanda yang berkuasa.


Minirama: Pertempuran Di Kuala Tungkal

Pada 21 Januari 1949 jam 11.30 WIB beberapa buah kapal Belanda menyerang kota Kuala Tungkal dengan melepaskan meriam dan mortir. Salah satu yang menjadi sasaran Belanda adalah Mesjid Raya Jami' Kuala Tungkal. Pasukan TNI yang dipimpin oleh Letnan Muda A. Fattah mengadakan perlawanan sambil mundur ke arah Desa Parit Gompong. Dua orang prajurit, seorang pemuda pejuang, dan guru Sekolah Rakyat (SR) yang bernama R. Selamat gugur dalam pertempuran tersebut. 

Tentara Belanda berhasil menduduki Kota Kuala Tungkal. Pasukan TNI dan Pasukan Barisan Selempang Merah beserta rakyat selalu melakukan penyerangan dan penyerbuan ke pertahanan Belanda di Kota Kuala Tungkal. Serangan yang dilakukan pada 28 Januari 1949, pasukan TNI yang dipimpin langsung oleh A. Fatah sebagai Komandan Sektor 1023 menyerangan kedudukan pasukan Belanda yang sedang berpatroli di sekitar Paring Gompong. Banyak korban di pihak pasukan Belanda, sedangkan pasukan TNI seluruhnya kembali ke Desa Pembengis dengan selamat.
Demikian pula Pasukan Selempang Merah selalu menyerang Belanda, seperti serangan yang dilakukan pada 7 Februari 1949. Pasukan Selempang Merah menggunakan 9 buah perahu dengan jumlah pasukan 41 orang dipimpin Abdul Somad yang dikenal dengan panggilan Panglima Adul. Dengan strategi dan taktik jitu serta serangan mendadak Belanda kewalahan dan banyak pasukan Belanda yang menjadi korban, sementara itu dari Pasukan Selempang Merah 2 orang ditawan. Selanjutnya, pasukan TNI bersama Selempang Merah, Kepolisian, Pegawai Sipil Pamong Desa, dan alim ulama selalu bersama dan bahu-membahu melakukan penyerangan terhadap kedudukan Belanda di Kuala Tungkal. Serangan yang terjadi pada 23 Februari 1949 Pasukan Selempang Merah dipimpin oleh H. Syamsuddin dan M. Sanusi, TNI dipimpin oleh Sersan Mayor Kadet Madhan AR., Masdar Ajang Camat Tungkal Ilir, dan Komandan Polisi Zulkarnain Idris bersama Agen Polisi H. Aini.
Pasukan besar ini dibagi menjadi 21 kelompok yang dipimpin langsung oleh Panglima H. Saman. Setelah terjadi pertempuran sengit selama 3 jam, pasukan Selempang Merah mengundurkan diri ke Desa Pembengis dengan meninggalkan korban 30 orang gugur. Di pihak Belanda juga jatuh banyak korban jiwa dan luka-luka. Masih banyak lagi  pertempuran lain yang dilakukan oleh Pasukan Selempang Merah maupun TNI di daerah Kuala Tungkal. 

Selasa, 14 April 2015

Minirama: Pertempuran Durian Luncuk

Tanggal 6 Februari 1949 pasukan Belanda menduduki Durian Luncuk berkekuatan 2 pleton. Komandan STD (Sub Territorial Djambi) yang dibantu beberapa Perwira berangkat dari Sarolangun dengan menggunakan perahu ke Mandiangin dan untuk selanjutnya menyerang kedudukan pasukan Belanda di Durian Luncuk. Berdasarkan hasil kesepakatan rapat di Mandiangin diputuskan penyerangan ke Durian Luncuk dilakukan pada 18 Februari 1949 jam 03.00 WIB dini hari. 

Serangan ini dibagi menjadi tiga formasi, yaitu formasi pertama dipimpin oleh Kapten M. Daud, formasi kedua dipimpin oleh Kapten Sulaiman Efendi, dan formasi ketiga dipimpin oleh Kapten H. Teguh dan dibantu oleh Letnan Dua Syamsuddin Uban. Setelah satu jam lebih baku tembak, karena kekuatan senjata tidak seimbang, pasukan TNI tidak berhasil menduduki Durian Luncuk. Dalam pertempuran ini diperkirakan menewaskan 20 orang tentara Belanda, sedangkan dari pihak republik hanya seorang, yaitu penunjuk jalan.

Minggu, 12 April 2015

Minirama: Pertempuran Di Sungai Kunyit dan Barung Telang

Pada 21 April 1949 Pasukan TNI bersama para pejuang lainnya berhasil memukul mundur pasukan tentara Belanda gelombang pertama yang bergerak dari Tapan di Sumatra Barat ke Sungai Penuh di Sako, perbatasan Kerinci dengan pesisir selatan Sumatra Barat. Demikian pula dengan kedatangan gelombang kedua tentara Belanda yang berhasil dipukul mundur oleh TNI dan para pejuang di Sungai Kunyit dan Barung Telang.




Pasukan Belanda yang dibantu pesawat udara menembaki dan membom kedudukan pasukan TNI dan para pejuang di tempat pertahanannya di Sungai Kunyit dan Barung Telang. Pasukan TNI beserta pejuang lainnya mengadakan perlawanan sengit dan tanpa pergantian mereka bertahan dalam lubang-lubang dan tembok-tembok bekas pertahanan Jepang. Mereka bertahan selama 3 hari 2 malam di bawah pimpinan Letnan Satu Imran Yt dan Letnan Dua Bachtaruddin. Oleh karena hebatnya pertempuran, Front Sungai Kunyit ini terkenal dengan sebutan Front Perwira.

Akhirnya, dengan bantuan pesawat udara yang gencar dan gerakan melingkar ke belakang Pasukan TNI, Front Perwira dapat ditembus Pasukan Belanda pada 25 April 1949 jam 11.00 siang. 

Minirama: Pertempuran Di Pelepat

Muara Pelepat merupakan salah satu dari 2 daerah kepabeanan yang dibentuk oleh Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Kawedanaan menjadi ajang pertempuran antara tentara Belanda dengan para pejuang Muara Bungo. Sebagai komandan kepabeanan ini ditunjuk Lettu Ramli Umar dan wakilnya Letmud Husin Talib. Pos Pabean Muara Pelepat mendapat serangan dari tentara Belanda pada 5 Juli 1949 yang datang dari Dusun Baru. Dalam pertempuran yang cukup sengit tersebut gugur seorang agen polisi yang bernama Mat Keriting dan tiga anggota pabean lainnya dapat meloloskan diri. Mereka adalah Idris Sampir, Ramli Pudin, Simin, dan Ibnu Hajar.





Tidak cukup menyerang Pos Pabean Muara Pelepat, tentara Belanda juga menyerang Pos Pabean Babeko pada 24 Juli 1949 di pukul 04.30 pagi. Penyerangan pada Pos Pabean Babeko yang berada di bawah pimpinan Komandan Act. Letmud Ibrahim Yassin, tentara Belanda berhasil menewaskan seorang pejuang, Serma ALRI Baharuddin. Lima , anggota pos pabean lainnya, yaitu Serma Ishak Buali, Sersan Saman Marzuki, Kopral PT Rustam, Kopral PT Rajiman, dan Pratu PT A. Rahman Th dapat ditawan Belanda. Sementara itu Yakub Jamin, agen polisi Hamid Salim, dan Pratu Laman dapat meloloskan diri.

Minirama: Pertempuran Di Semurung

Di Semurung Pasukan B-17 pimpinan Sersan Mayor Kadet Perluhutan Lubis dengan 17 anggotanya beristirahat di Desa Semurung, Air Hitam. Sebelumnya pasukan ini menghadang pasukan Belanda yang bergerak dari Pauh menuju Sarolangun pada 13 April 1949 di sekitar Batu Ampar. Keberadaan Pasukan B-17 di Desa Semurung diikuti mata-mata Belanda, sehingga pada malam harinya pasukan B-17 dikepung Belanda dan memerintahkan pasukan B-17 menyerah. 

Permintaan pasukan Belanda tidak dihiraukan. Dengan tekad dan semangat merdeka atau mati, mendengar komando dari komandannya, pasukan B-17 langsung melakukan perlawanan sehingga terjadi pertempuran sengit namun tidak seimbang, baik personil maupun kualitas senjata. Dalam pertempuran ini Sersan Mayor Kadet Parluhutan Lubis beserta pasukannya gugur, kecuali seorang prajurit bernama Said berhasil meloloskan diri dan melaporkan peristiwa tersebut kepada Komandan Batalyon Cindur Mato, Kapten Hasyim Alamsyah di Sungai Bangko. Dalam pertempuran tersebut selain Sersan Mayor Parluhutan Lubis yang gugur, juga terdapat nama-nama lain, di antaranya Sersan Mayor Husin dan Sersan Mayor Amir Hamzah.