Minggu, 22 Juli 2012

Pertempuran Durian Luncuk

Durian Luncuk adalah nama sebuah kelurahan di Kecamatan Batin XXIV Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi. Di daerah ini di tahun 1949 terjadi peristiwa penyerangan besar-besaran pada kedudukan pasukan Belanda oleh pasukan STD (Sub Teritorium Djambi) dengan komandan Kolonel Abunjani. 
Peristiwa ini diawali pada 29 Desember 1948 saat pasukan STD yang sedang berbenah diri di Bangko ditembaki pesawat Belanda. Pesawat tersebut menembaki beberapa tempat, seperti kantor Pekerjaan Umum (PU), jembatan Merangin (jembatan H. Syamsuddin), dan iring-iringan kendaraan yang sedang menuju Sungai Manau. Walaupun demikian penembakan tersebut tidak menimbulkan korban jiwa. 
Penembakan ini menimbulkan kemarahan Komandan STD Kolonel Abunjani dan memerintahkan Kepala Staf Mayor Brori Masyur untuk mengumpulkan semua perwira yang berada di Kota Bangko di kediaman Komandan STD. Di dalam pertemuan tersebut terjadi dialog antara Komandan STD dengan para perwira, seperti: "Kito sudah litak dibuat Belanda ... di Jambi kito diserang .... baru beberapo hari di Bangko, kito lah diserang lagi ..... Apokah kito idak sanggup menyerangnyo balik?'. Pertanyaan komandan ini dijawab oleh para hadirin dengan serentak .... "sanggup!!!! Sasarannya pun ditetapkan, yaitu kedudukan Belanda terdekat, di Durian Luncuk.
Persiapan penyerangan mulai dilakukan, terutama persenjataan dan pengangkutannya ke Durian Luncuk. Para perwira pun mulai berangkat ke Sarolangun, Pauh, dan berakhir di Mandiangin. Terakhir sekali yang berangkat adalah komandan dengan mengenakan perahu melalui Sei Merangin menuju ke Mandiangin. Rombongan terakhir ini terdiri dari Kolonel Abunjani sebagai komandan, Mayor Brori Mansyur sebagai kepala staf, Sersan Mayor Cadet R. Suhur sebagai ajudan, Datuk Panglima Putih, Mayor Jepang Suroto, seorang Suku Anak Dalam sebagai penunjak jalan, dan 2 orang tukang kayuh perahu. Sesampainya di Mandiangin rombongan komandan menempati rumah Pasirah H. Arsyad yang letaknya di seberang Dusun Mandiangin.
Setelah beberapa hari beristirahat dan menyiapkan seluruh pasukan, pertengahan Februari 1949 rombongan Komandan STD mulai bergerak menuju Dusun Durian Luncuk dengan berjalan kaki. Sebelum memasuki Dusun Durian Luncuk, di Bukit Peranginan rombongan memasuki hutan agar dapat keluar menyerang dari belakang Dusun Durian Luncuk. Perjalanan memasuki hutan dengan membawa senjata yang berat sangatlah sulit, tetapi risiko dicurigai musuh berkurang apabila dilakukan melalui jalan raya.
Setelah sekian lama berjalan sampailah rombongan di jalan raya, tetapi jalan tersebut masih jauh dari Dusun Durian Luncuk, tepatnya di Dusun Jelutih. Oleh karena masih banyak waktu serangan tersisa, pasukan diistirahkan agar kondisi mereka pulih kembali. Setelah beristirahat, dalam suasana malam yang gelap, pasukan per pasukan bergerak maju hati-hati dengan didahului oleh 2 orang pengintai, yaitu Mayor Jepang Suroto dan Sersan Mayor Cadet R. Suhur. Sebelum melakukan penyerangan pasukan berkumpul di pendakian bukit, di muka rumah Pasirah Sarbaini.
Komandan STD Kolonel Abunjani didampingi Kepala Staf Mayor Brori Mansyur melalui penghubung (ordenans) mengumpulkan semua komandan pasukan untuk memberi perintah sasaran penyerangan pada tempat kedudukan Belanda di Pasar Durian Luncuk dengan pembagian: 1) senapan mesin ringan di sebelah hulu dusun ditangani oleh Letnan Muda Syamsuddin; 2) senapan mesin berat cal. 12,7 di barat camp Belanda ditangani oleh Kapten Daud dan kawan-kawan didampingi Sersan Mayor Cadet P.Cl Lubis yang kemudian membentuk Pasukan B 17; 3) hilir dusun ditempatkan 2 orang yang bertugas memutuskan kabel telpon sehingga hubungan Belanda dengan induk pasukannya di Muara Tembesi terputus; 4) Mayor Suroto akan ber-jibaku menyerbu ke dalam barak Belanda dengan bersenjatakan pedang samurai; 5) di seberang Sungai Tembesi ditempatkan Kapten Sulaiman dengan pasukannya; dan 6) jam tembak pukul 03.30.
Setelah menyocokan jam, Komandan Pasukan masing-masing membawa pasukannya dengan hati-hati di tempat yang ditentukan.Tepat pukul 03.30 tanggal 18 Februari 1949 penyerangan dimulai dan dalam penyerangan ini banyak timbul korban di pihak Belanda.Untuk mengenang peristiwa heroik tersebut, didirikanlah sebuah tugu perjuangan yang dikenal sebagai Tugu Juang Durian Luncuk. (bpx).

----------
Sumber: Ringkasan Latar Belakang Tugu Juang Durian Luncuk Kabupaten Batanghari oleh R. H. Suhur. Makalah Ceramah Kebudayaan Daerah Jambi 1991-1992.

2 komentar:

  1. Terima Kasih, saya sering lewat dan melihat tugu durian luncuk, namun baru sekarang saya mengetahui jikalau disana ada peristiwa heroik dari pejuang2 bangsa.. tapi masih ada yang kurang mengenai hasil dari penyerengan tersebut bagaimana? berapa korban yang gugur? dan pihak musuh yang tewas kurang jelas.

    BalasHapus
  2. Terima kasih Pahlawanku, saya sebagai putra asli Durian Luncuk merasa terharu sekaligus bangga atas semua pengorbananmu, akan kami pertahankan dan akan kami lanjutkan semua perjuanganmu sampai anak cucu kelak.
    Sudah menjadi tugas anak bangsa kedepan untuk membuat bumi pertiwi bangga dan mejadi sosok pahlawan-pahlawan baru di tanah air tercinta indonesia.
    Teruslah maju tanpa melupakan sejarah.

    BalasHapus