Selasa, 17 Juli 2012

Dialog Sejarah

DEPATI PARBO. PEJUANG KERINCI, JAMBI
(Oleh: Drs. Risnal Mawardi)

Biografi Depati Parbo
Depati Parbo dilahirkan di Desa Lolo, Kecamatan Gunung Raya, Kabupaten Kerinci. Ayahnya bernama Bimbe, sedangkan ibunya bernama Kembang. Beberapa kajian mendapati bahwa nama sebenarnya Depati Parbo saat kecil adalah Ahmad Karib. Depati Parbo memiliki tiga orang saudara perempuan yang bernama Bende, Siti Makam, dan Likom. Dikabarkan bahwa Depati Parbo atau Karib sejak kecil memiliki berbagai keanehan, antara lain memiliki gigi geraham berwarna kehitaman. Oleh karena itu masyarakat setempat memanggil Karib dengan Germon Besol.
Sebagaimana di kampung lainnya di Kerinci, sebagai seorang remaja Karib juga ikut dan senang belajar bela diri silat serta ilmu agama yang dilengkapi ilmu kebatinan. Setelah dewasa Karib mempersunting seorang gadis bernama Timah Sahara dan dikaruniai seorang anak yang diberi nama Ali Mekah. Untuk mengemban tugasnya sebagai seorang suami dan ayah, Karib memilih untuk merantau ke Batang Asai mengikuti jejak sejumlah orang Kerinci merantau bekerja sebagai pendulang emas. Selain ke Batang Asai, Karib juga melanglang buana ke beberapa daerah di Sumatera Selatan, seperti Rawas. Selain mencari nafkah untuk menyambung hidup, beliau juga aktif mencari ilmu bela diri dan kebatinan. Kegiatan ini dilakukannya sejak tahun 1859 hingga 1862.
Sebagai pemuda yang cerdas dan terampil di kampungnya, Karib akhirnya dilantik dan dikukuhkan sebagai seorang depati dalam sebuah upacara tradisional kanduhai sko (kenduri pusako). Karib diberi gelar Depati Parbo. Dengan demikian Karib tidak hanya memikirkan kehidupan keluarganya saja, tetapi sebagai depati beliau juga harus memikirkan masyarakatnya, bahkan hingga ke Kesultanan Jambi.

Sebagai Pejuang
Untuk melakukan pengawasan di wilayah Gunung Raya, Belanda yang datang ke Kerinci mendirikan pos patroli pada 1900 dengan memanfaatkan tenaga pribumi sebagai kuli.  Depati Parbo bersama sejumlah hulubalang mengatur siasat untuk menyerang pos patroli tersebut. Inilah pertempuran pertama di Kerinci, tepatnya di Renah Manjuto, berkecamuk antara hulubalang Kerinci di bawah pimpinan Depati Parbo dengan pasukan Belanda. Akibat pertempuran yang terjadi pada 1901 dengan banyak korban di pihak Belanda memaksa mereka mengurungkan niat memasuki Kerinci. Walaupun demikian, pada Oktober 1901 sejumlah 120 orang pasukan Belanda yang berada di Indrapura bersiap-siap menyerang Kerinci.
Pada Maret 1902 sejumlah 500 orang pasukan Belanda di bawah pimpinan Komandan Bolmar mendarat di Muarosakai dengan Tuanku Regen sebagai penunjuk jalan ke Kerinci. Belanda menyerang ke tiga tempat di Kerinci seperti Renah Manjuto, Koto Limau Sering, dan Temiai. Perang hebat pun berkecamuk di ketiga tempat tersebut, tetapi setelah Koto Limau Sering dikuasi, pasukan Belanda tanpa kesukaran memasuki lembah Kerinci.
Dalam perang di Pulau Tengah yang dipimpin oleh seorang ulama ternama, yaitu Haji Ismail dan Haji Husin turut bergabung para hulubalang dari dusun lainnya di Kerinci. Dalam sejarah Kerinci disebutkan bahwa pertempuran di dusun ini merupakan pertempuran yang tersengit dan terlama (lebih kurang 3 bulan). Pulau Tengah diserang Belanda sejak 27 Maret 1903 melalui 3 jurusan, yaitu di timur: Sanggaran Agung-Jujun; utara: Batang Merao-danau Kerinci; barat: Semerap-Lempur Danau.
Masjid Keramat Pulau Tengah merupakan salah satu tempat yang dijadikan benteng pertahanan masyarakat dalam menghadapi Belanda. Serangan terakhir pada Pulau Tengah dilakukan Belanda pada 9 hingga 10 Agustus 1903 dengan membakar Dusun Baru, tetapi Masjid Keramat luput terbakar. Perlawanan rakyat ini dapat diselesaikan Belanda.
Terakhir pasukan Belanda melakukan penyerangan ke Lolo, markas panglima perang Kerinci, Depati Parbo. Pertempuran berlangsung selama 5 hari. Akhirnya Belanda dapat membujuk Depati Parbo untuk mengadakan perundingan damai. Dalam perundingan inilah Depati Parbo ditangkap dan selanjutnya dibuang ke Ternate.
Setelah Kerinci aman pada 1927, atas permohonan para kepala mendapo di Kerinci pada Pemerintah Belanda, Depati Parbo dibebaskan dan kembali ke Kerinci.

----------
Artikel ini disarikan dari makalah yang disampaikan dalam Dialog Sejarah di Museum Perjuangan Rakyat Jambi pada 12 Juli 1912.

Senin, 16 Juli 2012

Dialog Sejarah

PERAN ABUNJANI DALAM MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN DI JAMBI
(Oleh: Drs. Junaidi T. Noor, M.M)

Siapa Abunjani?
Abunjani merupakan anak seorang demang yang berkedudukan di Rantau Panjang, Batang Asai yang bernama Demang Makalam. Demang Makalam berasal dari Pondok Tinggi, Kerinci, sedangkan ibunya bernama Siti Umbuk berasal dari Desa Keladi. Abunjani yang lahir pada 24 Oktober 1918 merupakan anak keempat dari 5 bersaudara dengan urutan sebagai berikut: Siti Rodiah, M. Kamil, Siti Raimin, dan adiknya M. Sayuti.
Kedudukan orang tuanya sebagai demang memberi kesempatan untuk menyekolahkan anaknya di lembaga pendidikan formal. Pada usia 8 tahun Abunjani bersama kakaknya, M. Kamil, dikirim ke Jambi untuk bersekolah di bawah asuhan Ali Sudin (keponakan Makalam) yang saat itu (1926) telah bekerja sebagai jurutulis (klerk) di kantor Kontrolir Jambi. Dengan beberapa pertimbangan, Makalam menitipkan kedua anaknya pada temannya yang berkebangsaan Belanda yang bekerja di BPM (Bataafsche Petroleum Maatschappij). Oleh karena itu tidak mengherankan apabila M. Kamil dan Abunjani mahir berbahasa Belanda.
Secara berturut-turut, tahun 1931 Abunjani berhasil menamatkan pendidikan di Hollandsc-Inlandsche School (HIS) selama 7 tahun dan tahun 1934 menamatkan pendidikan di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) Bandung. Pada 1940 Abunjani mengikuti pendidikan di Middelbare Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaar (MOSCVIA) di Bandung, tetapi tidak tamat karena berlangsungnya pendudukan Jepang. Pada masa pendudukan Jepang ini Abunjani menamatkan pendidikan di Shonan Kao Kun Renjo (Sionanto) di Singapura selama 1 tahun. Abunjani kemudian diangkat sebagai asisten Ki Imuratyo. Pendidikan militer ini kemudian diteruskan ke akademi militer Giyugun di Pagaralam, Lahat dengan pangkat tamatan Letnan Dua (Shoi). Alumni pendidikan Angkatan Darat (Kanbu Kyoyiku tai) Jepang ini merupakan cikal bakal tentara nasional di masing-masing daerahnya. Abunjani sebagai Sudantyo Giyugun dari tahun 1942-1945 yang mempunyai kemampuan bahasa Belanda, Inggris, Jepang sangat berguna dalam kiprahnya di dunia bisnis selepas menanggalkan karir militernya. 

Peran Abunjani Di Masa Awal Kemerdekaan.
Menyusul menyerahnya Jepang pada sekutu pada tanggal 14 Agustus 1945, masyarakat Indonesia mulai bergerak untuk memerdekakan diri. Berbagai gerakan di pusat pemerintahan Jakarta membawa situasi yang berkembang cepat untuk mewujudkan kemerdekaan tersebut.
Berita kekalahan Jepang oleh sekutu cepat beredar dalam 2 garis. Garis pertama adalah reaksi cepat memanfaatkan peralihan kekuasaan Jepang ke tangan elit-elit politik Indonesia dengan tokoh-tokoh militer Indonesia yang mendapat kesempatan dari pejabat Pemerintahan Jepang di Jakarta. Garis kedua, jalur Pemerintah Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia dengan alasan kalahnya Jepang maka Indonesia kembali dalam status jajahan Belanda. Bagi Belanda, Proklamasi yang dikumandangkan pada 17 Agustus 1945 adalah hadiah Jepang karena usaha-usaha yang dilakukan oleh Badan Penyelidik Usaha-Usaha Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) merupakan rangkaian proes yang dipersiapkan bersama Jepang. Selain itu, kemerdekaan Indonesia itu berarti hilangnya penguasaan atas negara jajahan sejak abad XVII.
Berita Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 tersebar di pelosok Indonesia melalui berita-berita radio yang dikirim oleh orang-orang Indonesia yang bekerja di kantor radio dan telegrap Jepang. Dr. A. K. Gani di Palembang mengabarkan via telepon kepada R. Soedarsono di pertambangan minyak Bajubang Jambi pada 18 Agustus 1945. Abdullah Karta Wirana, seorang tokoh pergerakan Jambi yang bekerja sebagai pejabat penting di Jawatan Penerangan Jepang (Hodokan) pada 20 Agustus 1945 menggalang tokoh politik dan pemuda Jambi untuk bersatu dalam sikap memerdekakan Jambi. 
Bendera Merah Putih dikibarkan di puncak menara air oleh para pemuda Jambi, antara lain R. Hoesen, Akipo, dan Amin Aini. Sementara itu, Kantor Pengadilan Jepang (dekat RS. Thersia sekarang) beberapa pejuang, seperti Zuraida, Nuraini, Sri Rexeki, Nurlela, dan Nursiah menurunkan bendera Jepang (Hinomaru) dan menggantinya dengan menaikan bendera Merah Putih. Praktis pada 22 Agustus 1945 bendera Merah Putih berkibar di Jambi dan beberapa kota lainnya di Keresidenan Jambi. Pada tanggal tersebut merupakan awal gerakan kemerdekaan Indonesia di Jambi, yaitu terbentuknya Angkatan Pemuda Indonesia (API) yang diketuai oleh Abunjani. API ini bertugas menjaga ketertiban, keamanan, membela, dan mempertahankan kemerdekaan.
Menindaklanjuti pembentukan Komite Nasional Indonesia (KNI), Badan Keamanan Rakyat (BKR), dan Badan Penolong Keluarga Perang (BPKKP) yang bertugas memelihara keamanan dan ketertiban  umum di Jakarta, pada 25 Agustus 1945 terbentuklah KNI Jambi yang dilantik pada Oktober 1945. Selain  mengetuai BKR, Abunjani juga ditunjuk mengetuai kelompok pemuda dari KNI. Pada 5 Oktober 1945 BKR diganti namanya menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dengan komandannya Abunjani yang berpangkat Kolonel.
Pada 24 Juni 1946 TKR pun dirubah menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI) dan Jambi kesatuannya menjadi Resimen II Devisi II Jambi sebagai bagian dari Sumatera Selatan. Sebelumnya, pada 17 Juni 1946 diadakan penyempurnaan susunan Dewan Pertahanan Daerah Keresidenan Jambi yang diketuai Inu Kertapati dan Kolonel Abunjani sebagai wakil ketua. Residen II Divisi II pada 3 Juni 1947 dirubah lagi menjadi Resimen 43 Jambi dan terakhir menjadi Brigade Garuda Putih. Pada 10 September 1947 menyusul Agresi Belanda, Keresidenan Jambi dibentuk Komando Daerah Militer Jambi dengan komandannya Kolonel Abunjani dan wakilnya Letnan Kolonel Tituler R. Soedarsono. Komando Daerah Militer Jambi kemudian pada 1 Juni 1948 menjadi TNI Sub Teritorium Djambi (STD) sebagai bagian TNI Sub Komando Sumatera Selatan (Sub KOSS) dengan komandannya Kolonel Abunjani.
Dalam kedudukannya sebagai Komandan STD Jambi merangkap pimpinan Komando Daerah Militer Brigade Garuda Putih dipegang sejak Juni 1948 hingga Januari 1949. Adanya kebijakan rasionalisasi di kalangan TNI, pangkat Kolonel Abunjani diturunkan menjadi Letnan Kolonel. Walaupun demikian, Letnan Kolonel Abunjani tetap di militer dengan jabatan rangkap sebagai Wakil Gubernur Militer Sumatera Selatan khusus daerah Jambi, juga sebagai Komandan STD sampai pertengahan Januari 1950.Terhitung Februari 1950 Letnan Kolonel Abunjani mengundurkan diri dari TNI beralih profesi menjadi seorang pengusaha di Jambi dan Jakarta.
Salah satu peran Abunjani dalam menunjang perjuangan di masanya adalah membentuk Badan Keuangan Perjuangan yang memobilisasi pedagang karet ke Singapura dengan menyisihkan 10% keuntungan untuk perjuangan. Usaha tersebut selain dapat membantu perjuangan Pemerintah Pusat, sewa-beli Pesawat Catalina (RI 05) sebagai pesawat penghubung ke Sumatera Barat maupun Yogyakarta dalam jaringan pemerintahan, juga memasok perlengkapan dan perbekalan pasukan dengan sistem barter komoditi lada, vanili, karet, dan lain-lain.
Peran yang perlu dicatat kepemimpinan Letnan Kolonel Abunjadi adalah memindahkan pusat pemerintahan dan pertahanan militer saat serangan Belanda pada 29 Desember 1948. Bersama dengan Rd. Inu Kertapati dan M. Kamil mengungsi ke pedalaman, tetapi terhenti di Sengeti. Rd. Inu Kertapati kembali ke Jambi untuk menenangkan keluarga dan masyarakat kota Jambi oleh bombardir pesawat dan serangan tentara Belanda melalui Kenali Asam dan Palmerah. Pada 1 Januari 1949 terbitlah surat kuasa Residen Jambi Rd. Inu Kertapati kepada M. Kamil, Bupati Jambi Hilir untuk meneruskan Pemerintahan Darurat Keresidenan Jambi. Dalam rapat antara unsur pemerintah dan militer di Tebo menghasilkan keputusan bahwa H. Baksan yang saat itu menjabat sebagai Bupati Jambi Ulu sebagai Residen Pemerintah Darurat Keresidenan Jambi dan Pusat Komando Militer dipindahkan ke Bangko. Walaupun mengalami berbagai gempuran, perjuangan dan pemerintahan darurat berjalan sebagaimana mestinya.

---------------
Artikel ini disarikan dari makalah yang disampaikan dalam Dialog Sejarah di Museum Perjuangan Rakyat Jambi pada 12 Juli 2012. 

Senin, 07 Mei 2012

Mengenal Lintasan Sejarah Jambi

Mengenal lintasan sejarah Jambi merupakan judul yang diketengahkan Museum Perjuangan Rakyat Jambi dalam pameran di arena MTQ ke 42 yang berlangsung di Sungai Misang, Merangin. Judul ini diangkat guna menjelaskan perjalanan panjang sejarah Jambi dari masa prasejarah hingga Jambi menjadi daerah otonom.
Dalam pameran dijelaskan bahwa perjuangan bangsa Indonesia dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan di Jambi berlangsung dari masa kesultanan hingga terbentuknya Jambi menjadi suatu daerah otonom dari Negara Kesatuan Indonesia Republik Indonesia (NKRI). Perjuangan yang mengorbankan harta dan jiwa dilakukan tidak hanya melalui perjuangan bersenjata, tetapi juga melalui diplomasi dan pemanfaatan sumber daya yang dimilki Jambi. Sumber daya tersebut meliputi sumber daya manusia dan sumber daya alam. Salah satu kekayaan sumber daya alam di Kabupaten Merangin adalah kekayaan geologi di Batang Merangin yang meliputi geodiversity, geoherritage, dan geofenomena tiada tara. Kekayaan geologi tersebut menjadi jejak rekam evolusi bumi terlengkap dan terlestari di dunia yang hingga kini masih ada.
Keberhasilan perjuangan dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan dapat terwujud atas rahmat Tuhan Yang Maha Kuasa dan kegigihan para pejuang kusuma bangsa. Kegigihan dalam perjuangan dibuktikan dengan digunakannya berbagai persenjataan yang dimiliki para pejuang, seperti berbagai senjata tajam dan senjata api buatan lokal.
Di sisi lain perjuangan tersebut melahirkan jiwa, semangat, dan nilai-nilai kejuangan yang memberikan inspirasi dan kekuatan dahsyat bagi perjuangan bangsa ini. Sebagai generasi penerus yang handal haruslah memahami, mendalami, menghayati jiwa, semangat, dan nilai-nilai kejuangan bangsa hingga ke lubuk hati yang paling dalam untuk mempelajari sejarah perjuangan bangsa ini.

Bacaan: B. Kunto Wibisono. "Geopark Merangin Dibicarakan Pada Konferensi Unesco" dalam www.antaranews.com/berita/308822/geopark-merangin-dibicarakan-pada-konferensi-unesco. 

Rabu, 28 Maret 2012

Bendera Pangeran Ratu

Serupa dengan Bendera katun hitam, bendera wol kuning menjadi koleksi Museum Nasional pada tanggal 22 Mei 1905 dengan nomor inventaris 11679. Koleksi ini diserahkan oleh Pemerintah Hindia Belanda pada lembaga Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen yang kini Museum Nasional melalui Gubermenten Besluit No. 17, tanggal 12 Mei 1905. 
Bendera kain kuning ini berbentuk empat persegi panjang polos dari bahan wol. Bendera yang berukuran panjang 246 cm dan lebar 140 cm dahulu menunjukkan jabatan Pangeran Ratu atau putra mahkota, calon sultan. Disayangkan, kondisi koleksi rapuh dan beberapa bagian robek. (Budi Prihatna).

Selasa, 27 Maret 2012

Bendera Raja Sehari

Bendera katun berbentuk segi empat panjang berwarna hitam berukuran 179 x 82 cm dengan tepi atas disisipkan sehelai katun putih segi empat panjang berukuran 28 x 44 cm merupakan bendera yang menunjukkan kedudukan Raja Sehari saat prosesi pelantikan sultan baru.
Sejak 22 Mei 1905 Bendera katun hitam ini menjadi koleksi Museum Nasional dengan nomor inventaris 11674. Koleksi ini diserahkan oleh Pemerintah Hindia Belanda pada lembaga Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen yang kini menjadi Museum Nasional melalui Gubermenten Besluit No. 17, tanggal 12 Mei 1905.
Mengenai Raja Sehari disebutkan dalam Undang-Undang, Piagam, dan Kisah Negeri Jambi, Pasal pertama yang menyatakan keturunan orang Kerajaan Jambi berbunyi: “Adapun Raja Sari itu keturunan Orang Kayo Pingai. Dan kepalanya yang besar tumbuhnya di Kampung Baharu Tanjung Pedalaman, asalnya sekarang sudah pindah di Tanjung Pasir. Dan pengaturannya hadap raja, jika hendak mendirikan raja dialah dahulu menjadi raja, satu hari itu lalu mendirikan sulthan”.
Dalam Pasal 5 Undang-Undang dan Ketentuan Tentang Pencacahan Orang-Orang di Dalam Kerajaan Yaitu Yang 12 Kalbu berbunyi: “Adapun mengenai periyayi Raja Sari adalah keturunan Orang Kayo Pingai, pembesar yang mengepalai kalbu ini duduknya ada di Kampung Baru Tanjung Pedalaman akan tetapi sekarang ini sudah pindah di Dusun Tanjung Pasir, kalbu ini memegang adat dan aturan untuk memegang jabatan raja untuk satu hari, bila negeri melakukan penobatan/pelantikan raja, karena itu disebutkan sebagai Raja Sari (Raja Sehari)”. (Budi Prihatna).
Sumber: Budi Prihatna. Tesis. 2010. Pemanfaatan Koleksi Regalia Kesultanan Jambi Guna Penyempurnaan Tata Pameran Tetap Museum Negeri Jambi. Bandung: Universitas Padjadjaran.

Senin, 19 Maret 2012

Keris Singa Merjaya


Keris Singa Merjaya merupakan keris pusaka Kesultanan Jambi yang disandang oleh Pangeran Ratu atau putra mahkota. Keris ini dari 14 Agustus 1904 berada di lembaga Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen yang kini menjadi Museum Nasional. Keris ini diserahkan oleh Pemerintah Hindia Belanda  melalui Binnenlandsch Bestuur (Kementrian Dalam Negeri) dengan Gubermenten Besluit (Keputusan Pemerintah) No. 7, tanggal 14 Agustus 1904.
Keris Senja Merjaya yang bernomor inventaris 10920 (E 264) bilahnya dibuat dari besi dengan sedikit hiasan motif sulur daun dari emas daun, terutama pada bagian dapur dan lambe. Keris yang panjangnya 35 cm berhulu kayu bentuk katak duduk dengan tangan membelit badan, ber-luk 7, dan ber-selut emas dengan motif sulur daun, tumpal, bunga, dan lidah api. Kondisi koleksi sangat baik.
Keris Singa Merjaya merupakan keris pemberian Sultan Palembang kepada Pangeran Ratu Anom Martadiningrat sebagai hadiah perkawinannya dengan putri Palembang. Dalam Naskah Undang-Undang Piagam dan Kisah Negeri Jambi, Pasal Raja Jambi Pergi Beristri di Palembang, Nikah Dengan Anak Sunan Palembang, dipaparkan sebagai berikut:
“Maka berwasiatlah Ratu Ibu kepada anaknya dan kepada raja yang besar-besar, dan kepada mentrinya yang besar dikatanya inilah keris aku yang disangui Sri Paduka Ayahanda Susunan Palembang, masa aku hendak berangkat ke Jambi dahulu, maka sekarang ini keris aku namai Singo Marjayo yang aku jadikan kerajaan kepada orang Tembesi, dan kepada Orang Batin Sembilan. Siapa juga yang bergelar Pangeran Ratu, maka itulah yang memegang keris ini, maka itulah raja orang Tembesi dan orang Batin Sembilan ……”. (Darahim, 2005: 35).

Sebelum diserahkan ke Pemerintah Hindia Belanda di bulan Desember 1903 Keris Singa Merjaya dikuasai oleh Pangeran Ratu Martaningrat. (Budi Prihatna).



Sumber: Budi Prihatna. Tesis. Pemanfaatan Koleksi Regalia Kesultanan Jambi Guna Penyempurnaan Tata Pameran Tetap Museum Negeri Jambi. Bandung: Universitas Padjadjaran. 2010.

Minggu, 11 Maret 2012

Bintang Penghargaan Kesultanan Turki

Berbeda halnya dengan Keris Si Ginjei, Bintang Penghargaan Kesultanan Turki sebagai regalia Kesultanan Jambi berada di Jambi, tepatnya di Museum Negeri Jambi sejak 31 Mei 2002. Sebelumnya regalia kesultanan ini berada di Kemaman, Terengganu, Malaysia, disimpan di kediaman Engku Zubir Bin Engku Ja'far. Seperti diketahui, pada  Oktober 1857 Sultan Thaha melakukan misi diplomatik dengan mengutus Pangeran Ratu ke Singapura untuk diteruskan kepada Sultan Turki. Sultan Thaha mengirimkan permintaan tertulis kepada Sultan Turki agar diperoleh pengakuan yang menyatakan bahwa Jambi adalah wilayah Turki dan pihak luar tidak punya hak. Surat tersebut dititipkan pada seorang pembesar Singapura dengan memberi imbalan 30 ribu dollar Spanyol untuk menyampaikannya ke Istambul. Dipilihnya Turki karena imperium Utsmani dianggap memiliki kekuatan yang harus diperhitungkan oleh negara-negara "kafir" (penjajah).
Pengiriman surat pada pemimpin Imperium Utsmani tersebut memberikan dampak dengan dikeluarkannya utimatum berupa: 1) diberi kesempatan kepada Sultan Thaha dalam tempo 2 x 24 jam untuk membuat perjanjian baru pada Belanda; 2) apabila Sultan Thaha tetap membangkang Belanda akan menurunkan sultan dari tahta kerajaan dan akan menunjuk sultan baru yang menyetujui perajian baru; 3) sultan diwajibkan segera mengirim utusan kerajaan ke Batavia untuk memberi tanda kehormatan kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda; 4) jika semuanya ditolak, Belanda akan mengirimkan pasukan perang untuk menaklukan Jambi. Utimatum dari Pemerintah Hindia Belanda dijawab oleh Sultan Thaha "Kerajaan Jambi adalah hak milik rakyat Jambi dan akan kami pertahankan dari penjajahan oleh siapapun juga dengan tetesan dari penghabisan".
Walaupun surat dari Sultan Thaha sampai di Turki, Kesultanan Turki hanya memberikan jawaban berupa pemberian penghargaan Kesultana Turki tanpa memberikan bantuan lainnya. Saat itu Bintang Penghargaan Kesultanan Turki tidak dapat diterima Sultan Thaha karena adanya blokade laut yang dilakukan pasukan Pemerintah Hindia Belanda. (Budi Prihatna).

Sumber: Elsbeth Locher-Scholten, 2008. Kesultanan Sumatra dan Negara Kolonial. Hubungan Jambi-Batavia (1830-1907) dan Bangkitnya Imperialisme Belanda. Jakarta: Banana & KITLV; A. Mukti Nasruddin, tt. Jambi Dalam Sejarah Nusantara. Jambi: Tidak dipublikasikan.