Selasa, 29 April 2014

SAROLANGUN DALAM CATATAN SEORANG KONTROLIR


Dalam zaman yang sangat awal, sejauh berkenaan dengan daerah aliran hulu Batang Tembesi, tempat masuknya aliran Batang Merangin ke dalamnya, Kerajaan Jambi baik dalam nama maupun kenyataan sebenarnya tidak lebih jauh dari daerah Batin XXIV.

Penduduk yang berada di aliran hulu Batin XXIV berasal dari Minangkabau-Kerinci. Keberadaan mereka melebar hingga sepanjang aliran Sungai Tenang. Sewajarnya apabila kemudian datang juga orang-orang Palembang, Rawas, Jambi, dan Jawa yang bercampur dengan penduduk imigran tersebut. Mereka itu memberikan andil besar atas kehadiran suku bangsa yang hidup sekarang.

Orang-orang Minangkabau yang pertama dari hulu aliran Batang Tembesi turun ke daerah ini dan menetap sepanjang aliran Batang Tembesi dan Batang Asai. Diperkirakan orang-orang Kubu hidupnya masih di hutan rimba. Penduduk daerah tersebut bercampur baur yang kemudian menjadi penduduk Batin. Ketika orang-orang Kubu tidak ada lagi atau terdesak masuk ke pedalaman, orang-orang Batin menjadi penduduk yang menetap, menjadi tuan dan penguasa tanah, sedangkan orang-orang Minangkabau yang datang kemudian menjadi penduduk yang disebut Penghulu. 

Daerah yang paling awal berkembang berada di sisi Sungai Tenang, yaitu daerah yang sekarang disebut Batin II di Batang Tembesi. Kemudian berdiri daerah yang disebut Batin V di Batang Asai dan Batang Limun (saat itu masih bernama Sungai Serut). Dengan demikian seluruh daerah tersebut mulanya terdiri dari 3 daerah, yaitu: 

  1. Alam Sungai Tenang, termasuk di dalamnya daerah Tiang Pumpung, selebihnya Luwak XVI, Sungai Pinang, sebagian besar Datuk nan Berampek dengan Seluro dan dengan atau tanpa Batin Pengembang;
  2. Batin II, termasuk seluruh Batin VIII, Kampung IV, hampir seluruh Cermin nan Gedang, sebagian besar yang sekarang Batin V (Kampung III, Sarolangun, Lidung, dan Ladang Panjang), dan yang sekarang III Dusun; 
  3. Batin V dengan Kelebu V. Satu bagian dari Datuk nan Berampek dengan Seluro, Sebakul, Bukit Bulan, Datuk nan Betigo, dan dengan atau tanpa Batin Pengambang.
 Sementara itu, menurut berita orang-orang Minangkabau-Kerinci dari Sungai Tenang dan Serampas selalu ingin turun ke hilir. Mereka menghuni Rangkiling dan Koto Buayo. Desakan terus-menerus yang dilakukan suku-suku bangsa di daerah ini mencemaskan Raja Jambi akan integritas negerinya. Untuk itu Raja Jambi menjelaskan hal tersebut kepada Raja Pagaruyung. Diperkirakan dahulu diadakan perjanjian yang menentukan bahwa daerah tersebut berada dalam kekuasaan Jambi dan untuk mengadakan hubungan antara ketiga wilayah tersebut ada suatu peraturan yang disebut Surat nan 3 Pucuk. 

Sungai Tenang kemudian berganti menjad Batin IX dan Merangin. Hal ini sebagai akibat Sungai Tenang tidak mau disamakan dengan daerah yang semula mengakui kekuasaan melalui perserikatan. Selanjutnya Batin II membaur dalam Batin VIII, sehingga perserikatan terdiri dari Batin IX, Batin VIII, dan Batin V. Ketika Lubuk Resam berdiri dari Batin II dan berkeluarga dengan Koto Buayo, Lubuk Resam berkembang menjadi Cermin nan Gedang. Perserikatan kemudian berubah menjadi Surat nan 3 Pucuk ka Ampek Cermin nan Gedang, yaitu sejenis federasi antar Batin IX (Merangin), Batin VIII, Batin V, dan Cermin nan Gedang.

Akhirnya Batin IX dikeluarkan dari perserikatan dan digabungkan pada daerah apanage (tanah yang hasilnya dipungut oleh raja) Pangeran Tumenggung dan tempatnya diambil alih oleh yang disebut Datuk nan Betigo. Datuk nan Betigo adalah nama kolektif untuk semua Penghulu daerah-daerah di wilayah ini yang semakin lama mendapatkan suatu lembaga pemerintahan yang berdiri sendiri. Dengan demikian yang dimaksud dengan Surat nan 3 Pucuk adalah Batin VIII, Batin V, dan Datuk nan Betigo.

Secara politik seluruh wilayah Onderafdeeling Sarolangun dibagi dalam daerah-daerah atau federasi sebagai berikut:

  1. Daerah Batin yang meliputi Batin II, Kampung IV di Mudik, Kampung IV di Ilir, Batin V, Cermin nan Gedang, dan Batin Bukit Bulan. Batin IV di Mudik dan Batin IV di Ilir juga bernama Batin VIII;
  2. Daerah Penghulu yang meliputi Penghulu Bukit Bulan, Datuk nan Betigo, Tiga Dusun dengan Rantau Tenang, dan Kampung IV. 
Pada 24 Oktober 1931 melalui Surat Keputusan Residen Tentang Marga-Marga dan Batin di Jambi disebutkan bahwa dalam Onderafdeeling Sarolangun terdiri dari Sarolangun, Batin VIII, dan Pelawan yang membentuk federasi Sarolangun; Cermin nan Gedang, Datuk nan Tigo, dan Bukit membentuk federasi Lubuk Resam; Batang Asai, Sungai Pinang, dan Batin Pengambang membentuk federasi Rantau Panjang; dan Air Hitam, Batin VI, serta Simpang III membentuk federasi Pauh. (Budi Prihatna).

Minggu, 19 Januari 2014


MENGENAL RUMAH SEJARAH

Rumah Sejarah merupakan sebuah rumah yang menjadi saksi bisu penyerahan kekuasaan (kapitulasi) dari Pemerintah Hindia Belanda ke Pemerintah Jepang. Rumah Sejarah ini merupakan salah satu bangunan cagar budaya yang dilindungi Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya yang berada di bawah pengelolaan Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olah Raga Kabupaten Subang. 
Rumah Sejarah
Rumah Sejarah terletak di Kompleks Garuda No. 6 Lanud Kalijati, Desa Kalijati Barat, Kecamatan Kalijati, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Bangunan yang bergaya Eropa dengan dinding tembok dibangun oleh pemerintah Hindia Belanda pada 1917 di areal tanah seluas 1.728 m² sebagai rumah dinas perwira Staf Sekolah Penerbang Hindia Belanda di Pangkalan Udara Kalijati. Sebelumnya rumah dinas ini didiami oleh Letnan Jeep Hall, tetapi sejak 4 Agustus 1941 dijadikan markas intel ABDA (American-British-Dutch-Australian), yaitu persekutuan negara Amerika, Inggris, Belanda, dan Australia yang dibentuk di awal tahun 1942 untuk menjaga keamanan Semenanjung Malaya, Singapore, dan Hindia Belanda.

Rumah Sejarah diresmikan sebagai sebuah museum bernama Rumah Sejarah pada 21 Juli 1986 yang pendiriannya atas prakarsa Komandan Lanud Kalijati Letkol PNB Ali BZE. Tujuannya untuk mengenang bahwa di gedung ini diselenggarakan perundingan penyerahan kekuasaan dari Pemerintah Hindia Belanda ke Pemerintah Jepang pada 8 Maret 1942.

Tugu Peringatan Kapitulasi
Seperti diketahui pada 1 Maret 1942 tentara Jepang mendarat di tiga tempat di Pulau Jawa, yaitu Merak, Eretan, dan Kranggan. Tentara Jepang yang mendarat di Eretan sebanyak 3.060 personil dilengkapi kendaraan lapis baja dan sepeda menuju pangkalan udara Kalijati. Mereka menyerang pangkalan udara Kalijati dari darat dan udara, sehingga sat itu juga pengkalan udara dapat dikuasai tentara Jepang. Penyerangan tentara Jepang diteruskan menuju Bandung, bersamaan dengan pergerakan pasukan Jepang yang mendarat di Merak menuju Jakarta, dan pasukan Jepang di Kranggan menuju Semarang. 

Sebelum tentara Jepang menyerang Bandung, Panglima Belanda (Jendral Ter Poorten) mengirim utusan menghadap komandan Jepang di Kalijati, yaitu Kolonel Sodji untuk mengadakan perundingan. Selanjutnya Kolonel Sodji memberitahukan kepada panglima tertinggi Jepang yang berada di Jakarta, yaitu Jendral Imamura bahwa panglima tentara Belanda yang berada di Bandung mengajukan perundingan perdamaian.

Jendral Hitoshi Imamura
Pada 8 Maret 1942 berlangsung perundingan antara pemerintahan Hindia Belanda yang dipimpin oleh Jendral Ter Poorten dengan pemerintahan Jepang yang dipimpin oleh Jendral Hitoshi Imamura disaksikan oleh Gubernur Jendral Hindia Belanda Tjarda van Starkenborgh Stachouwer. Pada pukul 17.00 naskah perundingan ditandatangani dan Belanda menyerah tanpa syarat untuk seluruh wilayah Hindia Belanda.

Di Jambi sendiri penyerahan kekuasaan (kapitulasi) berlangsung melalui pertempuran sengit. Di bawah pimpinan Kolonel Namura beberapa kedudukan pasukan Hindia Belanda di Jambi dapat dikuasai pasukan Jepang, seperti Sarolangun pada 23 Februari 1942, Muarobungo pada 28 Februari 1942, Muaratebo pada 4 Maret 1942, dan Kota Jambi pad 4 Maret 1942 yang dipimpin Kapten Oreta. Setelah seluruh Jambi dikuasai Jepang, pada 10 Maret 1942 disusun pemerintahan ala Jepang yang pada dasarnya tetap mempertahankan susunan ketatanegaraan Hindia Belanda. Perubahan hanya pada nama dan istilah, yaitu merubah dari bahasa Belanda ke bahasa Jepang, seperti keresidenan menjadi syu, afdeeling menjadi bunsyu, dan lain-lain. (Budi Prihatna).