Senin, 23 Maret 2015

Mengenang: R. R. Cobley





Ralph Richard Cobley


Ralph Richard Cobley merupakan salah seorang warga negara asing yang berpartisipasi dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Beliau adalah warga negara Australia yang lahir pada 1919 di Hampstead, London, Inggris, dari pasangan John Cowan Cobley dan Minnie May Cobley.
Beliau adalah pilot yang mengawaki pesawat Catalina RI 005 yang jatuh di DAS Batanghari pada 29 Desember 1948, saat dilakukan percobaan penerbangan setelah perbaikan mesin pesawat yang rusak. 

Selasa, 29 April 2014

SAROLANGUN DALAM CATATAN SEORANG KONTROLIR


Dalam zaman yang sangat awal, sejauh berkenaan dengan daerah aliran hulu Batang Tembesi, tempat masuknya aliran Batang Merangin ke dalamnya, Kerajaan Jambi baik dalam nama maupun kenyataan sebenarnya tidak lebih jauh dari daerah Batin XXIV.

Penduduk yang berada di aliran hulu Batin XXIV berasal dari Minangkabau-Kerinci. Keberadaan mereka melebar hingga sepanjang aliran Sungai Tenang. Sewajarnya apabila kemudian datang juga orang-orang Palembang, Rawas, Jambi, dan Jawa yang bercampur dengan penduduk imigran tersebut. Mereka itu memberikan andil besar atas kehadiran suku bangsa yang hidup sekarang.

Orang-orang Minangkabau yang pertama dari hulu aliran Batang Tembesi turun ke daerah ini dan menetap sepanjang aliran Batang Tembesi dan Batang Asai. Diperkirakan orang-orang Kubu hidupnya masih di hutan rimba. Penduduk daerah tersebut bercampur baur yang kemudian menjadi penduduk Batin. Ketika orang-orang Kubu tidak ada lagi atau terdesak masuk ke pedalaman, orang-orang Batin menjadi penduduk yang menetap, menjadi tuan dan penguasa tanah, sedangkan orang-orang Minangkabau yang datang kemudian menjadi penduduk yang disebut Penghulu. 

Daerah yang paling awal berkembang berada di sisi Sungai Tenang, yaitu daerah yang sekarang disebut Batin II di Batang Tembesi. Kemudian berdiri daerah yang disebut Batin V di Batang Asai dan Batang Limun (saat itu masih bernama Sungai Serut). Dengan demikian seluruh daerah tersebut mulanya terdiri dari 3 daerah, yaitu: 

  1. Alam Sungai Tenang, termasuk di dalamnya daerah Tiang Pumpung, selebihnya Luwak XVI, Sungai Pinang, sebagian besar Datuk nan Berampek dengan Seluro dan dengan atau tanpa Batin Pengembang;
  2. Batin II, termasuk seluruh Batin VIII, Kampung IV, hampir seluruh Cermin nan Gedang, sebagian besar yang sekarang Batin V (Kampung III, Sarolangun, Lidung, dan Ladang Panjang), dan yang sekarang III Dusun; 
  3. Batin V dengan Kelebu V. Satu bagian dari Datuk nan Berampek dengan Seluro, Sebakul, Bukit Bulan, Datuk nan Betigo, dan dengan atau tanpa Batin Pengambang.
 Sementara itu, menurut berita orang-orang Minangkabau-Kerinci dari Sungai Tenang dan Serampas selalu ingin turun ke hilir. Mereka menghuni Rangkiling dan Koto Buayo. Desakan terus-menerus yang dilakukan suku-suku bangsa di daerah ini mencemaskan Raja Jambi akan integritas negerinya. Untuk itu Raja Jambi menjelaskan hal tersebut kepada Raja Pagaruyung. Diperkirakan dahulu diadakan perjanjian yang menentukan bahwa daerah tersebut berada dalam kekuasaan Jambi dan untuk mengadakan hubungan antara ketiga wilayah tersebut ada suatu peraturan yang disebut Surat nan 3 Pucuk. 

Sungai Tenang kemudian berganti menjad Batin IX dan Merangin. Hal ini sebagai akibat Sungai Tenang tidak mau disamakan dengan daerah yang semula mengakui kekuasaan melalui perserikatan. Selanjutnya Batin II membaur dalam Batin VIII, sehingga perserikatan terdiri dari Batin IX, Batin VIII, dan Batin V. Ketika Lubuk Resam berdiri dari Batin II dan berkeluarga dengan Koto Buayo, Lubuk Resam berkembang menjadi Cermin nan Gedang. Perserikatan kemudian berubah menjadi Surat nan 3 Pucuk ka Ampek Cermin nan Gedang, yaitu sejenis federasi antar Batin IX (Merangin), Batin VIII, Batin V, dan Cermin nan Gedang.

Akhirnya Batin IX dikeluarkan dari perserikatan dan digabungkan pada daerah apanage (tanah yang hasilnya dipungut oleh raja) Pangeran Tumenggung dan tempatnya diambil alih oleh yang disebut Datuk nan Betigo. Datuk nan Betigo adalah nama kolektif untuk semua Penghulu daerah-daerah di wilayah ini yang semakin lama mendapatkan suatu lembaga pemerintahan yang berdiri sendiri. Dengan demikian yang dimaksud dengan Surat nan 3 Pucuk adalah Batin VIII, Batin V, dan Datuk nan Betigo.

Secara politik seluruh wilayah Onderafdeeling Sarolangun dibagi dalam daerah-daerah atau federasi sebagai berikut:

  1. Daerah Batin yang meliputi Batin II, Kampung IV di Mudik, Kampung IV di Ilir, Batin V, Cermin nan Gedang, dan Batin Bukit Bulan. Batin IV di Mudik dan Batin IV di Ilir juga bernama Batin VIII;
  2. Daerah Penghulu yang meliputi Penghulu Bukit Bulan, Datuk nan Betigo, Tiga Dusun dengan Rantau Tenang, dan Kampung IV. 
Pada 24 Oktober 1931 melalui Surat Keputusan Residen Tentang Marga-Marga dan Batin di Jambi disebutkan bahwa dalam Onderafdeeling Sarolangun terdiri dari Sarolangun, Batin VIII, dan Pelawan yang membentuk federasi Sarolangun; Cermin nan Gedang, Datuk nan Tigo, dan Bukit membentuk federasi Lubuk Resam; Batang Asai, Sungai Pinang, dan Batin Pengambang membentuk federasi Rantau Panjang; dan Air Hitam, Batin VI, serta Simpang III membentuk federasi Pauh. (Budi Prihatna).

Minggu, 19 Januari 2014


MENGENAL RUMAH SEJARAH

Rumah Sejarah merupakan sebuah rumah yang menjadi saksi bisu penyerahan kekuasaan (kapitulasi) dari Pemerintah Hindia Belanda ke Pemerintah Jepang. Rumah Sejarah ini merupakan salah satu bangunan cagar budaya yang dilindungi Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya yang berada di bawah pengelolaan Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olah Raga Kabupaten Subang. 
Rumah Sejarah
Rumah Sejarah terletak di Kompleks Garuda No. 6 Lanud Kalijati, Desa Kalijati Barat, Kecamatan Kalijati, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Bangunan yang bergaya Eropa dengan dinding tembok dibangun oleh pemerintah Hindia Belanda pada 1917 di areal tanah seluas 1.728 m² sebagai rumah dinas perwira Staf Sekolah Penerbang Hindia Belanda di Pangkalan Udara Kalijati. Sebelumnya rumah dinas ini didiami oleh Letnan Jeep Hall, tetapi sejak 4 Agustus 1941 dijadikan markas intel ABDA (American-British-Dutch-Australian), yaitu persekutuan negara Amerika, Inggris, Belanda, dan Australia yang dibentuk di awal tahun 1942 untuk menjaga keamanan Semenanjung Malaya, Singapore, dan Hindia Belanda.

Rumah Sejarah diresmikan sebagai sebuah museum bernama Rumah Sejarah pada 21 Juli 1986 yang pendiriannya atas prakarsa Komandan Lanud Kalijati Letkol PNB Ali BZE. Tujuannya untuk mengenang bahwa di gedung ini diselenggarakan perundingan penyerahan kekuasaan dari Pemerintah Hindia Belanda ke Pemerintah Jepang pada 8 Maret 1942.

Tugu Peringatan Kapitulasi
Seperti diketahui pada 1 Maret 1942 tentara Jepang mendarat di tiga tempat di Pulau Jawa, yaitu Merak, Eretan, dan Kranggan. Tentara Jepang yang mendarat di Eretan sebanyak 3.060 personil dilengkapi kendaraan lapis baja dan sepeda menuju pangkalan udara Kalijati. Mereka menyerang pangkalan udara Kalijati dari darat dan udara, sehingga sat itu juga pengkalan udara dapat dikuasai tentara Jepang. Penyerangan tentara Jepang diteruskan menuju Bandung, bersamaan dengan pergerakan pasukan Jepang yang mendarat di Merak menuju Jakarta, dan pasukan Jepang di Kranggan menuju Semarang. 

Sebelum tentara Jepang menyerang Bandung, Panglima Belanda (Jendral Ter Poorten) mengirim utusan menghadap komandan Jepang di Kalijati, yaitu Kolonel Sodji untuk mengadakan perundingan. Selanjutnya Kolonel Sodji memberitahukan kepada panglima tertinggi Jepang yang berada di Jakarta, yaitu Jendral Imamura bahwa panglima tentara Belanda yang berada di Bandung mengajukan perundingan perdamaian.

Jendral Hitoshi Imamura
Pada 8 Maret 1942 berlangsung perundingan antara pemerintahan Hindia Belanda yang dipimpin oleh Jendral Ter Poorten dengan pemerintahan Jepang yang dipimpin oleh Jendral Hitoshi Imamura disaksikan oleh Gubernur Jendral Hindia Belanda Tjarda van Starkenborgh Stachouwer. Pada pukul 17.00 naskah perundingan ditandatangani dan Belanda menyerah tanpa syarat untuk seluruh wilayah Hindia Belanda.

Di Jambi sendiri penyerahan kekuasaan (kapitulasi) berlangsung melalui pertempuran sengit. Di bawah pimpinan Kolonel Namura beberapa kedudukan pasukan Hindia Belanda di Jambi dapat dikuasai pasukan Jepang, seperti Sarolangun pada 23 Februari 1942, Muarobungo pada 28 Februari 1942, Muaratebo pada 4 Maret 1942, dan Kota Jambi pad 4 Maret 1942 yang dipimpin Kapten Oreta. Setelah seluruh Jambi dikuasai Jepang, pada 10 Maret 1942 disusun pemerintahan ala Jepang yang pada dasarnya tetap mempertahankan susunan ketatanegaraan Hindia Belanda. Perubahan hanya pada nama dan istilah, yaitu merubah dari bahasa Belanda ke bahasa Jepang, seperti keresidenan menjadi syu, afdeeling menjadi bunsyu, dan lain-lain. (Budi Prihatna).


Selasa, 16 April 2013

PERJUANGAN BARISAN SELEMPANG MERAH
MENGHADAPI AGRESI MILITER BELANDA II DI TANJUNG JABUNG 1949

Barisan Selempang Merah merupakan sebuah kumpulan kebatinan yang bernafaskan Islam yang bertujuan berjuang mengusir penjajahan Belanda di Tanjung Jabung. Para anggotanya terdiri dari masyarakat dari berbagai suku bangsa yang berada di Tanjung Jabung, seperti Banjar, Bugis, Jawa, dan lain-lain. 

Barisan Selempang Merah merupakan barisan pajuang rakyat yang keyakinannya mengamalkan bacaan-bacaan yang bersumber dari ayat suci Al-Quran, Sunnah Rasul, dan amalan para Wali Allah. Barisan ini terbentuk sebelum Agresi Belanda II dengan anggotanya berjumlah 3.000 orang yang tersebar sepanjang pesisir pantai timur Tanjung Jabung, bahkan sampai ke Indragiri Hilir (Riau). Barisan ini fraksi dari barisan Pejuang Hisbullah. 

Pada masa Agresi II, tentara Belanda memasuki Kuala Tungkal melalui jalur laut dengan menggunakan kapal perang. Pada 21 Januari 1949 Kota Kuala Tungkal mendapat serangan cukup dahsyat dari Belanda dengan melepaskan tembakan beruntun dan membabi buta. Tembakan tersebut sasarannya adalah tempat ibadah, seperti Mesjid Raya Jami' Kuala Tungkal dan Mesjid Agung Kuala Tungkal (Ilir). Dalam serangan tersebut tentara Belanda berhasil meruntuhkan menara Mesjid Agung dan jamaah shalat membubarkan diri untuk menyelamatkan jiwanya. 

Akhirnya penduduk beserta Barisan Selempang Merah dan TNI terdesak untuk mengungsi di beberapa tempat, seperti 1). rombongan pemerintahan beserta stafnya menuju Desa Pembengis dan diterima oleh Camat Masdar, Guru Panak, Guru Sanusi, dan lain-lain; 2) rombongan Letda A. Fatah Lasside dan Pasirah Asmuni yang menuju Teluk Sialang diterima oleh Datuk Haji Mustafa dan Datuk Abd. Razak di Desa Batara (Sungai Gebar); 3) rombongan lainnya ada yang mengungsi ke Tungkal I, bahkan ada yang ke Pematang Lumut dan Pematang Bulu. 

Setelah tentara Belanda menguasai Kota Kuala Tungkal pada pukul 16.00 sore, 3 anggota Selempang Merah seperti H. Saman, Makruf (Aruf), dan Masrun, atas perintah Panglima Adul mengadakan pengintaian Kota Kuala Tungkal dengan menggunakan jukung (perahu kecil).

Pada malam Sabtu tanggal 22 Januari 1949 sebelum membalas serangan Belanda, Panglima Adul pergi ke Parit Haji Yusuf (Tungkal V) menemui Tuan Guru KH. M. Daud Arief untuk berkonsultasi rencana membalas serangan Belanda. Pada 23 Januari 1949 Barisan Selempang Merah yang dipimpin oleh Abdul Samad (Panglima Adul) yang berasal dari Parit Selamat menyerang kedudukan Belanda di Kota Kuala Tungkal. Serangan Panglima Adul bersama 42 anggotanya memakai tanda sehelai "selempang merah". Pada penyerangan ini terjadi kontak senjata dengan tentara Belanda, dan korban pun berjatuhan di kedua belah pihak. 

Pada 28 Januari 1949, satu regu pasukan TNI yang dipimpin oleh Letda A. Fatah Lasside bergerak dari Desa Pembengis menuju Kota Kuala Tungkal. Pertemuan satu regu pasukan TNI dan tentara Belanda di Kota Kuala Tungkal memicu pertempuran yang berlangsung sekitar 1 jam. Dalam pertempuran tersebut beberapa tentara Belanda menjadi korban, sedangkan seluruh pasukan TNI kembali dengan selamat ke Pembengis.

Pada 13 Februari 1949 barisan Selempang Merah bersama pasukan TNI mengadakan serangan bersama dengan kekuatan 115 orang. Barisan Selempang Merah bersenjatakan parang, badik, dan senjata tradisional lainnya berangkat dari Parit Selamat menuju Kota Tungkal. Ke 115 orang ini dibagi menjadi 4 bagian yang masing-masing dipimpin oleh Abdul Samad, H. Saman, H. Nafiah, dan Zaidun.

Saat serangan serentak dan mendadak ini barisan Selempang Merah dipimpin Panglima Adul dan TNI dipimpin Serma Murad  Alwi bersama Serma Buimin Hasan (CPM) bergerak dari Parit Bakau ke Kuala Tungkal. Perlawanan ini dilandasi oleh keyakinan bahwa apabila mereka gugur, mereka rela mati syahid demi negara, bangsa, agama, dan Kota Kuala Tungkal.

Dalam peristiwa ini Barisan Selempang Merah menggunakan 11 perahu dan ketika perahu di urutan ke 3  bertemu kapal perang Belanda di tengah laut, Panglima Adul beserta anak buahnya melepaskan tembakan. Seketika itu juga terjadi tembak menembak. Panglima Adul segera melompat ke laut dan berenang menuju kapal Belanda untuk naik ke kapal, tapi saat memegang jangkar kapal segera diberondong tembakan. Panglima Adul tewas di laut Sungai Pengabuan. Gugurnya Panglima Adul dan Panglima H. A. Hamid, pimpinan Barisan Selempang Merah digantikan oleh H. Saman yang selama ini mendampingi Panglima Adul dalam menyerang kedudukan Belanda di Kota Kuala Tungkal.

Setelah beberapa kali melakukan penyerbuan dari laut, para tokoh Barisan Selempang Merah maupun TNI mengalihkan penyerbuannya dari arah daratan.Untuk mempersiapkan penyerbuan ke Kota Kuala Tungkal terdaftar kurang lebih 1.000 orang yang ingin bertempur, dan setelah diadakan seleksi diterima 441 orang, sisanya cadangan.

Setelah semua persiapan selesai dilakukan, termasuk ajaran/amalan Selempang Merah di bawah pimpinan H. Saman, pada 23 Februari 1949 sejumlah 441 orang yang terdiri dari anggota Barisan Selempang Merah, TNI, Kepolisian, Pagawai Sipil, Pamong Desa, dan alim ulama menyerang kedudukan Belanda di Kuala Tungkal. Serangan ini merupakan yang paling besar jumlahnya dan terbaik persiapannya dibandingkan serangan-serangan sebelumnya. Dalam penyerangan ini antara lain terdapat 1) Sersan Mayor Kadet Madhan A. R., mewakili Komandan Sektor 1023 Front Tungkal Area; 2) H. Syamsuddin, Ketua Front Rimba; 3). M. Sanusi, Wakil Ketua Front Rimba; 4) Masdar Ajang, Camat Tungkal Ilir; 5). Komandan Polisi Zulkarnain Idris bersama Agen Polisi H. Aini, Dahlan Rayisi, Bustami, dan lain-lain.

Dalam penyerangan ini pasukan dibagi menjadi 21 kelompok yang dipimpin oleh seorang ketua kelompok yang langsung dipimpin oleh H. Saman. Pemberangkatan dilakukan dari Desa Pembengis dan sebelum subuh pasukan menyerbu Kota Kuala Tungkal dengan membakar rumah-rumah di sekitar tempat yang dijadikan tempat tinggal Belanda. Setelah terjadi pertempuran kurang lebih 1 jam Barisan Selempang Merah mengundurkan diri kembali ke Pembengis dengan meninggalkan korban sebanyak 30 orang gugur. Demikian pula banyak korban di pihak lawan.

Semenjak terjadinya pertempuran itu tentara Belanda membuat rintangan-rintangan berupa kawat berduri di sekeliling kedudukan mereka agar TNI dan Barisan Selempang Merah tidak berani lagi menyerang. Kenyataannya, TNI dan Barisan Selendang Merah tidak pernah menghentikan penyerangannya. Tentara Belanda yang keluar dari kamp mengadakan patroli selalu dihadang TNI dan Barisan Selempang Merah. Pada 8 Maret 1949 kembali gabungan pasukan TNI dan Barisan Selempang Merah berkekuatan 150 orang yang dipimpin oleh H. Saman menyerang tentara Belanda di Kota Kuala Tungkal. Dalam penyerangan ini 12 anggota Barisan Selendang Merah gugur dan di pihak Belanda diperkirakan jatuh beberapa korban.

Di lain pihak, pada 16 Maret 1949 Panglima Camak, pemimpin Barisan Selempang Merah dari Sungai Undan, memimpin pasukan 250 orang Barisan Selempang Merah menyerbu Kota Kuala Tungkal. Turut serta dalam penyerbuan ini 25 orang pasukan TNI yang dipimpin Sersan Mayor Kadet Madhar A. R. Pasukan ini diberangkatkan dari Mesjid Tua Pembengis. Dalam penyerangan ini Panglima Camak bersama pasukannya menyerbu pasukan Belanda yang berada di dalam kamp, sementara pasukan TNI melepaskan tembakan untuk melindungi mereka. Oleh karena kekuatan senjata tidak seimbang yang mana Barisan Selempang Merah hanya menggunakan senjata tajam seperti parang, pedang, keris, badik, tombak, dan senjata tajam lainnya, Barisan Selempang Merah mengundurkan diri ke Pembengis. Dalam pertempuran ini Panglima Camak bersama 80 orang anggotanya gugur. (bpx).

---------------

Sumber: Perjuangan Pasukan Selempang Merah Menghadapi Agresi Militer Belanda ke II Di Tanjung Jabung Barat 1949. Jambi: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jambi. Museum Perjuangan Rakyat Jambi. 2009.

Minggu, 14 April 2013

PERLAWANAN RAKYAT SAROLANGUN MENGHADAPI 
AGRESI MILITER BELANDA KE II

Sepuluh hari setelah Yogyakarta sebagai ibukota Republik Indonesia diduduki Belanda, Kota Jambi diserang dari udara menerjunkan pasukan payung dan dari laut menggunakan berbagai jenis kapal perang. Perlawanan oleh TNI untuk mempertahankan kota dan lapangan terbang Pall Merah dilakukan dengan peralatan yang kurang memadai. Pemimpin tentara dan sipil pada malam hari meninggalkan Kota Jambi karena kota sudah dikepung tentara Belanda. 

Setelah Belanda menduduki Kota Jambi dan melancarkan operasi militernya ke berbagai tempat dalam daerah Keresidenan Jambi, pasukan TNI yang tersebar di berbagai tempat melakukan konsolidasi kesatuan-kesatuannya sebagai persiapan untuk mengadakan serangan balasan dengan menggunakan teknik perang gerilya. Demikian pula dengan pasukan-pasukan pejuang rakyat dalam kesatuan laskar-laskar dan barisan-barisan perjuangan. 

Pada 13 April 1949 Belanda menyerang pertahanan TNI di Desa Pauh Sarolangun dan mendapat perlawanan sengit dari TNI. Oleh karena persenjataan tidak seimbang, pasukan H. Teguh mundur sehingga hari itu Belanda dapat menguasai Desa Pauh. 

Esok harinya Belanda meneruskan penyerangan ke arah Sarolangun, tetapi mereka mendapat kesulitan karena TNI dan para pejuang telah membuat rintangan dengan merobohkan pepohonan serta memutuskan beberapa jembatan. Tentara Belanda melakukan serangan darat, sungai, dan udara menyerang pos-pos pertahanan TNI yang berada di Dusun Batu Ampar, Lidung, dan Ladang Panjang. Serangan tentara Belanda ini mendapat perlawanan sengit dari pihak TNI. 

Sarolangun saat itu dipertahankan oleh satu kompi dari Batalyon Gajah Mada yang dipimpin oleh Kapten R. A. Rahman Kadipan dan beberapa perwira lainnya, antara lain Letnan Satu A. Sama, Letnan Dua M. Nawawi, Letnan Dua Mahmud Maloha, seorang perwira Jepang yang berpartisipasi membantu perjuangan Republik Indonesia Mayor Suroto, dan lain-lain.

Melihat situasi semakin gawat dan pasukan Belanda mendekati Sarolangun, berbagai bangunan, seperti asrama TNI eks Banteng, kantor-kantor pemerintahan, dan gudang dibumi hanguskan oleh TNI dibantu rakyat pejuang. Pemerintahan Kewedanan dipindahkan ke Karsio. Pada 18 April 1949  Belanda menduduki Sarolangun. Komandan Sektor 1012 R. A Rahman Kadipan bersama pasukannya mengundurkan diri ke Desa Tanjung Batin VIII arah Bangko. Sementara itu Komandan Sub Sektor 1012 Letnan Muda Nangyu bersama pasukannya membuat rintangan dengan menebangi pepohonan untuk direntangi di tengah jalan raya dan beberap jembatan diputuskan. Untuk mendampingi Komandan Sektor 1012 Kapten A. Rahman Kadipan diangkat A. Roni sebagai camat militer dan Rasyiddin Amin sebagai penerangan yang dapat menyelamatkan pemancar radio. Dengan bantuan pemancar radio yang dikelola Rasyiddin Amin inilah STD dapat berhubungan dengan para pejuang di daerah lain, bahkan sampai di daerah Aceh dapat memonitor situasi perang gerilya.

Saat jatuhnya Pauh dan Sarolangun Komandan Batalyon Gajah Mada mengangkat 1). H. Teguh sebagai Komandan Sektor Bangko dan Pemenang dengan wakil Letnan Dua J. Henulili yang berkedudukan di Pemenang; 2). Kapten R. A. Rahman Kadipan sebagai Komandan Sektor Tanjung Batin VIII dengan wakil Letnan Muda Nangyu yang berkedudukan di Dusun Tanjung; 3). Letnan Satu Tasrif sebagai Komandan Sektor Rantau Panjang Margoyoso dengan wakil Sersan Mayor Kadet R. Soehoer yang berkedudukan di Rantau Panjang.

Setelah dua hari Sarolangun diduduki Belanda, pasukan kecil TNI yang terdiri dari 8 tentara yang dipimpin oleh Letnan Muda Nangyu bermaksud membongkar jembatan Sarolangun yang terletak di Dusun Bernai. Baru saja mulai membongkar jembatan, penduduk Dusun Bernai memberitahukan bahwa Belanda sudah berada di Dusun Lidung yang jaraknya kurang lebih 7 km. Akhirnya belum selesai membongkar jembatan, Nangyu dan anak buahnya mundur dengan menebang pepohonan untuk rintangan jalan sampai Dusun Sungai Baung. Di Dusun Sungai Baung terdapat pasukan TNI/CPM yang dipimpin Sersan Mayor Kasim beserta anak buahnya, antara lain Kopral Sahar dan Prajurit Satar.

Esok harinya satu regu tentara Belanda berpatroli sampai di Dusun Sungai Baung dan terjadilah kontak senjata dengan pasukan Nangyu. Dalam kontak senjata ini tidak jatuh korban yang berarti, hanya seorang anak perempuan berusia 9 tahun terkena peluru nyasar.

Pasukan Nangyu dan Kaim mundur dari Sungai Baung ke Dusun Tanjung Batin VIII, sementara itu Komandan Sektor R. A. Rahman Kadipan bersama 20 prajurit TNI bertahan. Sebelum Belanda sampai di Dusun Tanjung, Letnan Muda Nangyu dan Sersan Ngadul menangkap seorang kaki-tangan Belanda yang bernama Alian. Setelah diintrogasi Camat Militer A. Roni Sani, Ajun Inspektur Polisi M. Ali Hanafiah, dan AIP. II Arijas Syarif, diputuskan hukuman tembak mati pada kaki-tangan Belanda tersebut.

Berdasarkan perkiraan, dalam waktu dekat Belanda akan merebut Dusun Tanjung, atas perintah Komandan Sektor, staf pemerintahan kecamatan yang dipimpin A. Roni Sani dan beberapa anggota polisi mundur ke Karsio, tempat pemerintahan Kewedanaan Sarolangun berada.

Beberapa hari kemudian Belanda menyerang TNI di Dusun Tanjung sehingga terjadi kontak senjata. Oleh karena tidak berimbangnya persenjataan, pasukan Rahman Kadipan berjuang secara gerilya. Dalam pertempuran di Dusun Tanjung ini Prajurit I M. Nur dari TB tertembak kakinya dan seorang pejuang bernama Aliudin dari Dusun Dalam tertembak tangan kanannya.

Setelah pertempuran di Desa Tanjung pasukan yang dipimpin Komandan Sektor R. A. Rahman Kadipan beserta wakilnya Letnan Muda Nangyu beserta para pemuda pejuang mundur secara terpisah-pisah. Ada yang menuju Kubang Ujo dengan menggunakan perahu, termasuk Letnan Muda Nangyu, Sersan Mayor R. Syahbudin, Sersan Simanjuntak, dan lain-lain. Di Kubang Ujo mereka bertemu Letnan Front Pauh. Mereka yang mundur ke Limbur antara lain Sersan Mayor Mat Jangkung, Sersan Wahid Bego, Kopral Rozak Nur, Kopral Prawito, dan beberapa orang lainnya. Mereka membuat pertahanan di Dusun Limbur Tembesi. Komandan Sektor R. A. Rahman Kadipan beserta beberapa orang anak buahnya mundur ke selatan.

Jatuhnya pertahanan TNI di Dusun Tanjung, Belanda mengalihkan kegiatannya ke daerah-daerah lain. Pada pertengah bulan Juli 1949 Belanda menyerbu pertahanan TNI di Kubang Ujo. Adanya kegiatan Belanda tersebut, Komandan STD memindahkan para perwiranya, antara lain: 1). Kapten H. Teguh diangkat menjadi Komandan Kompi I/Sektor Bangko/Pemenang, sedangkan Kapten M. Noer Komandan Sektor Kubang Ujo menggantikan Kapten Rahman Kadipan; 2). Letnan Muda Noorsaga dengan Surat Perintah Nomor 62/SC/1949 Tanggal 25 Mei 1949 dari Sektor 1056 dipindahkan ke Muaro Bungo Sektor 1012, dan digantikan sementara Kapten M. Daud yang selanjutnya pada akhir Juni dipindahkan ke Muaro Bungo dan menyerahkan tugasnya kepada Letnan Dua J. Henuhili.

Saat itu pos pertahanan STD terdepan di Kubang Ujo dipimpin Kapten M. Nur yang dapat berhubungan ke Pemenang dan Bangko. Pertahanan di STD di Pemenang dipimpin Letnan Dua J. Henuhili dengan penempatan pasukan: 1). Satu pasukan 30 orang dipimpin Sersan Mayor Kandung ditempatkan di pinggir Sungai Merangin; 2). di Ilir Dusun ke arah Sarolangun terdapat pos penjagaan 5 orang dipimpin Kopral Darmansyah dengan tugas selain sebagai pos pengawal terdepan, juga memungut 10% bea cukai dari pedagang yang keluar-masuk; 3). gudang perlengkapan (beras, kopi, gula, dan lain-lain) di tempatkan di rumah pasirah dengan dikawal 7 orang yang dipimpin Sersan Mayor Budiman dan Sersan Mayor Effendy; 4); Komandan Sektor Letnan Dua J. Henuhili dengan pasukan sebanyak 20 orang menetap di pinggir pasar Pemenang dengan Pos PHB dipimpin Sersan Mayor Bachrun yang dapat cepat berhubungan dengan Kubang Ujo maupun Bangko (STD).

Pada 25 Juli 1949 Belanda secara besar-besaran menyerang pertahanan, sehingga terjadilah kontak senjata yang hebat di Kubang Ujo. Belanda terus maju dari Kubang Ujo dan sampai di Pemenang pagi hari jam 06.00 tanggal 26 Juli 1949 sehingga terjadi tembak-menembak. Di hari yang sama sekitar pukul 17.00 pasukan Belanda meneruskan penyerangan ke Dusun Sungai Ulak di bawah pimpinan Letnan Dua J. Henuhili yang mundur ke dusun tersebut. Di dusun tersebut berada Mayor Kandung, Sersan Mayor Budiman, Sersan Mayor Effendi, Kopral Mohd. Roem, dan lain-lain. Selain pasukan J. Henuhili terdapat juga pasukan Letnan Dua Tasrif yang datang dari Margoyoso/Rantau Panjang. Saat itu rakyat sedang ramai bersilaturahmi dan TNI pun ikut berlebaran dengan masyarakat setempat.

Pada pos terdepan arah Bangko ditempatkan Sersan Mayor Effendy dan Kopral Mohd. Roem bersama beberapa orang Dusun Sungai Ulak. Tujuan penempatan ini agar kedatangan tentara Belanda dapat segera diketahui. Di Dusun Sungai Ulak sendiri terjadi tembak-menembak antara pasukan TNI yang dipimpin J. Henuhili bersama masyarakat berjuang melawan Belanda. Dalam tembak-menembak ini gugur Achmad Rio Sungai Ulak, Rusdi, Mat Mahi, dan Ibrahim. Rusdi, Mat Mahi, dan Ibrahim adalah anggota pasukan gerilya. Keempat korban tersebut setelah penyerahan kedaulatan makamnya dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Bangko. Sejak jatuhnya Kota Bangko, staf STD dan staf Pemerintahan Merangin yang dipimpin M. Kamil pindah dari Muara Siau ke Tanjung Dalam Kecamatan Jangkat.

Pada ahkir Mei 1949 Belanda memasuki Sungai Pinang dan terjadilah pertempuran dengan TNI Sektor Batang Asai yang dipimpin Letnan Satu Sayuti Makalam. Tentara Belanda maju terus ke Batang Asai melalui Dusun Selango dan Payo Sikumbang. Pihak Belanda mengetahui jalan ke desa-desa tersebut atas petunjuk jalan yang dibawanya dari Sarolangun, yaitu H. Wahid, anak Pasirah Sungai Pinang.

Pada awal Juni  1949 tentara Belanda di bawah pimpinan Sersan Mayor KNIL Pattiwael memasuki Kasiro pukul 06.00 pagi. Semua anggota polisi dan aparat pemerintah sipil dapat menyelamatkan diri, kecuali sebuah charge penerangan yang dirampas Belanda.

Dalam upaya merebut kembali Kasiro, pada 8 Agustus 1949 Kapten M. Kukuh sebagai Komandan Sektor TNI Kasiro yang bermarkas di Muaro Talang Batang Asai bersama Letnan Budiman, M. Sayuti Makalam, dan Sersan Mayor Abunsari siap menggempur Kasiro. Pasukan ini berkekuatan 150 orang. Pagi harinya saat pasukan ini berkumpul dan beristirahat di Pondok VII untuk malamnya menggempur Kasiro, tiba-tiba datang seorang kurir membawa surat selebaran yang menyatakan agar semua pihak menghentikan tembak-menembak (cease fire order tanggal 10 Agustus 1945).

Akhirnya pasukan gabungan ini kembali ke posnya masing-masing dan yang tinggal hanyalah pasukan polisi di bawah pimpinan AIP I. Mohd. Ali Hanafiah untuk menghadapi pihak KNIL Sersan Ngairan yang berlakunya caese fire kembali dengan pasukannya ke Sarolangun. (bpx).

-----------------------

Sumber: Perjuangan Rakyat Sarolangun Dalam Menghadapi Agresi Militer Belanda ke II 1949-1950. Jambi: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jambi. Museum Perjuangan Rakyat Jambi. 2009. 

Minggu, 07 April 2013

PARTISIPASI RAKYAT BATANGHARI DALAM MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN

Perkembangan yang terjadi di Batanghari, seperti Muara Tembesi yang menjadi basis perjuangan kesatuan-kesatuan TNI cukup menggembirakan. Pemerintahan sipil berjalan lancar dan berhasil mengendalikan situasi ekonomi, sosial, politik, dan keamanan, walaupun di bawah bayang-bayang harga karet yang tidak menentu. Keadaan bahan pangan yang sebagian besar diimpor dari daerah lain maupun luar negeri pada saat itu masih terjangkau rakyat dan masyarakat merasa aman/tentram. Saat itu yang menjabat Kepala Polisi Kewedanaan adalah Inspektur Polisi Darwis.

Di beberapa tempat strategis, seperti di Tanah Minyak, diperkuat lagi pengawalannya untuk menjaga kemungkinan sabotase atau serangan dari pihak Belanda. Hal ini mengingat adanya laporan intelejen yang menyatakan bahwa pihak Belanda bermaksud menguasai wilayah Republik Indonesia. Terbukti banyak terjadi kontak senjata antara para pejuang dengan pasukan Belanda, seperti di Medan (Medan Area), di Palembang (Pertempuran Lima Hari Lima Malam), di Semarang (Pertempuran 5 hari), di Ambarawa (Pertempuran Pelajar Ambarawa), dan di tempat lainnya di Indonesia.

Berbagai pertempuran tersebut meletus sebagai akibat dari sikap Sekutu yang menjengkelkan rakyat Indonesia, bahkan NICA (Nederlandsch Indie Civil Administratie) bertindak tidak sesuai dengan misi yang diemban AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies) di Indonesia. Misi AFNEI meliputi 1) menerima penyerahan kekuasaan dari tangan Jepang; 2) membebaskan para tawanan perang dan menerima interniran Sekutu; 3). melucuti dan mengumpulkan orang Jepang untuk kemudian dipulangkan; 4) menegakkan dan mempertahankan keadaan damai untuk kemudian diserahkan kepada pemerintah sipil; 5) menghimpun keterangan dan menuntut penjahat perang.

Panglima Besar Jenderal Soedirman menginstruksikan kepada semua jajaran kesatuan TRI di Indonesia berjuang menghadapi tentara agresi Belanda sampai titik darah penghabisan. Instruksi Panglima Besar ini didengar pada 9 November 1948 yang dikenal dengan "Perintah Siasat" Nomor 1 dengan menggariskan: 1). Cara-cara perlawanan terhadap agresi dan pendudukan tentara Belanda agar tidak merugikan pertahanan posisi strategis; 2). melaksanakan politik bumi hangus; 3). melaksanakan pengungsian dan penyusupan ke daerah lawan yang diduduki Belanda; konsekwen memegang prinsip non kooperatif terhadap penguasa dan aparat Belanda. Pembentukan daerah perlawanan dan pemerintahan gerilya yang dikenal dengan sebutan Wehrkreise di daerah pendudukan Belanda yang ditugaskan kepada unsur-unsur satuan hijrah yang harus kembali ke daerah asalnya.

Partisipasi masyarakat Kabupaten Batanghari dalam mempertahankan kemerdekaan cukup besar. Mereka mengumpulkan dana yang dikoordinir sebuah panitia yang dibentuk oleh DPR Keresidenan Jambi untuk membeli pesawat terbang jenis Dakota. Dana ini diperoleh dari hasil karet rakyat dan minyak bumi yang keduanya merupakan primadona daerah ini (bpx).

---------------
Sumber: Peranan Permiri Dalam Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan RI Di Jambi 1945-1949. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jambi. Museum Perjuangan Rakyat Jambi. 2009.


Selasa, 02 April 2013

SEJARAH SINGKAT PERMINYAKAN JAMBI

Awalnya di Jambi terdapat perusahaan tambang minyak yang bernama NIAM (Nederlandsch Indie Aardolie Maatschappij, yaitu perusahaan tambang minyak patungan antara Pemerintah Hindia Belanda dengan BPM (Bataaf Petroliuem Maatschappij). Menyerahnya Pemerintahan Pendudukan Jepang pada Sekutu pada 1945 semua tambang dan kilang minyak yang beroperasi di kawasan Sumatra Selatan dan Jambi segera diambil alih oleh pejuang kemerdekaan Republik Indonesia. Penyerahan tambang minyak dari pihak Pemerintah Jepang, yaitu Matsuda Butai kepada pihak pemerintah Republik Indonesia dilaksanakan di Bajubang.

Sebagai tindak lanjut penyerahan tersebut, didirikan perusahaan yang diberi nama Permiri (Perusahaan Minyak Republik Indonesia) untuk mengganti NIAM. Permiri merupakan senjata strategis dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan di bidang ekonomi dan persenjataan para pejuang Republik Indonesia di Kabupaten Batanghari (1945-1949).

Pemrakarsa pendirian perusahaan perminyakan di Sumatra Selatan (Permiri) adalah M. Isa tahun 1945 di Kenten Palembang. Disusul kemudian dengan berdirinya perusahaan yang sama di Prabumulih dan Jambi. Oleh karena sulitnya sarana perhubungan, Permiri Jambi jarang berhubungan dengan Permiri Palembang. Permiri Jambi wilayah kerjanya meliputi Muara Bulian, Bajubang, Sengeti, Tempino, Bayung Lencir, Sei Buaya, Kasang Jambi, dan Kenali Asam yang menjadi pusat pengolahan.

Saat berproduksi pusat pengolahan tersebut dapat menghasilkan kurang lebih 20 ton bensin, 10 ton kerosin, dan 5 ton solar per harinya, bahkan mampu menghasilkan 3.000 ton bensin per harinya. Pengolahan kilang minyak ini ditangani oleh putra bangsa Indonesia, tanpa bantuan tenaga asing. Oleh karena itu saat berlangsungnya revolusi fisik kilang minyak ini dipertahankan oleh para pejuang Jambi dengan gigih agar tidak dikuasai kembali oleh pemerintah kolonial Belanda.

Minyak hasil penyulingan di Kenali Asam tidak saja memenuhi kebutuhan konsumen di Jambi, tetapi juga dikirim ke daerah lain seperti Lubuk Linggau, Bengkulu, Sumatra Barat, Tapanuli, dan daerah lainnya.

Pada 1946 Permiri yang dipimpin oleh Kapten Tit. R. Soedarsono mendapat instruksi dari Panglima TRI Staf Komando Sumatra di Bukittinggi untuk berunding dengan AURI yang diwakili Kolonel Suyono dan Kolonel Halim Perdana Kusuma. Perundingan menghasilkan putusan agar Permiri Jambi memproduksi minyak pesawat terbang yang dipersiapkan untuk keperluan perjuangan. Hal ini kemungkinan sewaktu-waktu pembelian minyak pesawat terbang di luar negeri terputus oleh tindakan Belanda yang berlangsung pada 1946. Selain itu Permiri diminta pula berpartisipasi dalam pembuatan senjata api untuk keperluan persiapan perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Pembuatan senjata ini untuk mempersenjatai TRI dengan hasil cukup baik.

Divisi atau bagian pembuatan senjata ini dipimpin oleh Mayor Darko dan dibantu anggota Kesatuan TRI serta karyawan Permiri. Dalam situasi kritis masa revolusi fisik tanah minyak (sebutan untuk daerah penghasil minyak ed.) dikawal oleh Kesatuan TRI di bawah pimpinan Mayor Buiman dan secara bergilir diganti oleh A. Murad Alwi.

Keberhasilan Permiri menghasilkan minyak pesawat terbang, atas instruksi Kolonel (U) Suyono memerintahkan Permiri melanjutkan produksi minyak pesawat terbang dengan jumlah yang lebih besar. Peningkatan produksi ditujukan untuk kepentingan ekonomi dan perhubungan dalam rangka persiapan penerbangan Bukittinggi, Kutaraja (Banda Aceh), Siborong-Borong (Tapanuli), Bengkulu, dan Tanjungkarang menghadapi blokade Belanda (bpx).

---------------
Sumber: Peranan Permiri Dalam Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan RI Di Jambi 1945-1949. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jambi, Museum Perjuangan Rakyat Jambi.